Pemerintah Rusia diketahui telah memutuskan akan menyuntikkan vaksin COVID-19 Sputnik V kepada dokter, tentara dan guru, sebelum uji coba klinis pada tahap tiga selesai.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 07 September 2020 - 14:54 WIB
WowKeren - Sebagian guru hingga tenaga kesehatan, termasuk dokter di Rusia dilaporkan ragu terhadap kemanjuran vaksin virus COVID-19 Sputnik V yang diluncurkan belum lama ini. Diketahui, pemerintah Rusia memutuskan akan melakukan vaksinasi COVID-19 kepada dokter, tentara dan guru, sebelum uji coba klinis pada tahap tiga selesai.
Para guru dan dokter tidak serta merta percaya dengan klaim tentang kemanjuran vaksin Sputnik-V dan enggan dijadikan sebagai kelinci percobaan. Serikat guru Rusia, Uchitel, bahkan memulai petisi daring yang meminta anggotanya untuk menolak vaksinasi secara langsung atas dasar keamanan dan menyatakan keprihatinan bahwa vaksinasi yang saat ini bersifat sukarela, serta tidak boleh dijadikan wajib kecuali uji klinis selesai.
Dilansir dari CNN, salah satu ketua Uchitel, Marina Balouyeva, mengatakan petisi menentang vaksinasi wajib bagi guru lebih merupakan tindakan pencegahan. Dia waspada terhadap Sputnik V karena beberapa alasan.
Pertama, secara umum diketahui kualitas vaksin Rusia lebih buruk dibandingkan produksi luar negeri. Kedua, vaksin itu dibuat dengan kilat yang sudah menimbulkan kekhawatiran. Dia menilai vaksin itu dibuat dengan tergesa-gesa.
Terlepas dari janji dari pihak berwenang bahwa pengambilan vaksin akan bersifat sukarela, dia khawatir keadaan bisa berjalan berbeda dalam kenyataan, seperti yang sering terjadi di lembaga negara Rusia. Balouyeva mengungkapkan belum ada laporan yang dibuat dari para guru yang mengatakan mereka dipaksa untuk divaksinasi. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan ada masalah serupa.
"Sebelum uji coba berakhir, mereka tidak dapat membuat (vaksinasi) wajib. Tapi saya tahu bahwa di beberapa sekolah dan badan negara bagian, orang membicarakan tentang status wajib vaksin ini pada akhir tahun ini," kata seorang guru dan anggota serikat guru di Moskow, Yuri Varlamov.
Sementara sejumlah dokter di negara tersebut juga mengatakan hal serupa. "Saya bukan spesialis vaksin. Jadi, saya menelepon dokter yang menangani vaksinasi, saya menelepon ahli imunologi. Mereka berkata, 'jangan lakukan itu, sama sekali, vaksinnya mentah," ungkap seorang dokter yang tak ingin disebutkan identitasnya.
Lebih lanjut dia melontarkan pertanyaan bagaimana organisasi kesehatan dunia seperti WHO atau organisasi Eropa disalip oleh Rusia terkait penemuan vaksin COVID-19. "Jelaskan kepada saya: bagaimana mungkin organisasi Eropa dan internasional yang begitu kuat tidak dapat melakukannya, tetapi Institut Gamaleya yang relatif kecil dapat melakukannya? Saya tidak dapat memahaminya," lanjutnya.
Dia tidak tahu kapan vaksin akan dikirim ke rumah sakitnya, tetapi mengatakan sangat sedikit rekannya yang berani menolaknya. "Totalitarianisme tetap (di Rusia). Dua sektor yang paling tidak berdaya adalah pendidikan dan perawatan kesehatan. Semuanya dilakukan dengan paksa di sini. Tahun lalu saya mendapat vaksinasi flu, semua orang diberitahu bahwa mereka perlu divaksinasi. Dan semua orang melakukannya, karena jika Anda menolak, akan ada ganjaran," imbuhnya.
Namun terlepas dari hal tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin telah meyakinkan publik bahwa vaksin tersebut aman dan efektif. Putin memastikan vaksin Sputnik V telah menjalani serangkaian pengujian yang tepat dan aman. Putin menyatakan penggunaan vaksin Sputnik V sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Kesehatan Rusia. Bahkan Putin mengklaim putrinya menjadi relawan dalam uji klinis vaksin.
(wk/luth)