Inggris Minta Rusia Tanggung Jawab Soal Dugaan Kasus Peracunan Tokoh Oposisi Alexei Navalny
Reuters
Dunia

Saat ini tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, dikabarkan telah sadar dari koma dan kini berada dalam perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman.

WowKeren - Pemerintah Inggris memanggil duta besar Rusia dan meminta pertanggungjawaban atas kasus peracunan tokoh oposisi Alexei Navalny. Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, mengecam tindakan Rusia yang menggunakan Novichok untuk meracuni Navalny dan menuntut adanya penyelidikan yang transparan dan menyeluruh atas kasus ini.

"Hari ini Inggris memanggil duta besar Rusia untuk Inggris, Andrei Kelin untuk menyampaikan keprihatiann mendalam tentang racun Navalny," kata Raab. "Ini sama sekali tidak dapat diterima bahwa senjata terlarang kami telah digunakan dan Rusia harus mengadakan penyelidikan yang transparan dan menyeluruh."

Raab telah menyalahkan pihak-pihak terkait dengan Rusia, setelah dokter Jerman yang merawat Navalny mengatakan dia menemukan zat saraf Novichok.

Di sisi lain, saat ini Navalny dikabarkan telah sadar dari koma dan kini berada dalam perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman. "Pasien sudah dikeluarkan dari koma medis dan kini juga sudah lepas dari ventilator mekanis. Dia juga sudah merespons stimulan verbal," demikian pernyataan Rumah Sakit Charite.

Koma medis atau induced coma merupakan metode medis untuk membuat pasien tidak sadarkan diri dengan obat bius guna mencegah kerusakan otak. Pihak rumah sakit juga menjelaskan bahwa ventilasi mesin yang dipasang pada pasien tersebut sudah mulai dilepaskan.


"Saat ini masih terlalu dini untuk mengukur kemungkinan dampak jangka panjang dari keracunan parah yang ia alami," lanjut pernyataan pihak Rumah Sakit Charite.

Tokoh oposisi Rusia tersebut menjalani perawatan di Rumah Sakit Charite sejak 22 Agustus lalu akibat diracun. Menurut Menlu Jerman Heiko Maas, ada beberapa indikasi yang memperlihatkan Rusia terlibat dalam aksi peracunan Navalny. Satu di antaranya adalah racun yang digunakan untuk menyerang tokoh oposisi tersebut, yakni Novichok, yang digunakan oleh badan intelijen rahasia era Uni Soviet.

"Hanya sejumlah kecil orang yang memiliki akses ke Novichok dan racun ini digunakan oleh dinas rahasia Rusia dalam serangan terhadap mantan agen Sergei Skripal," katanya, merujuk pada serangan 2018 di kota Salisbury, Inggris.

Kendati demikian, pemerintah Rusia membantah keterlibatan para pejabat tinggi atau bahkan Presiden Vladimir Putin dalam kasus dugaan peracunan Alexei Navalny. "Kami tidak bisa menanggapi tuduhan ini (keterlibatan dalam peracunan Navalny) dengan serius. Begini, tuduhan yang sama sekali tidak mungkin benar dengan cara apa pun adalah kebisingan kosong. Kami tidak bermaksud untuk menganggapnya serius," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Navalny diduga diracun di pesawat saat melakukan perjalanan ke Siberia Agustus lalu. Dia pingsan setelah meminum teh yang disajikan kepadanya. Sebelum dibawa ke Berlin, Navalny sempat menjalani perawatan selama dua hari di kota Omsk di Siberia.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait