Kelima tersangka tersebut sebenarnya sudah dijatuhi hukuman mati pada Desember 2019, namun hukuman mereka diringankan. Pihak Saudi juga tidak membeberkan identitas para tersangka pada publik.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 08 September 2020 - 14:48 WIB
WowKeren - Arab Saudi menuai banyak kritik dari sejumlah negara lantaran memutuskan untuk membatalkan hukuman mati atas lima tersangka kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Putusan tersebut dianggap tidak memenuhi harapan global.
"Lima tersangka itu dijatuhi hukuman 20 tahun penjara dan tiga lainnya dipenjara 7-10 tahun," ujar juru bicara jaksa publik Saudi kepada media lokal. Namun ia tak menjabarkan lebih lanjut identitas kedelapan tersangka tersebut dan hanya menyatakan bahwa keputusan ini sudah final.
Protes soal hukuman yang diberikan atas para tersangka ini disuarakan oleh Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun. "Kami masih belum tahu apa yang terjadi dengan tubuh Khashoggi, siapa yang menginginkan dia mati, atau apakah ada kolaborator lokal yang menimbulkan keraguan atas kredibilitas proses hukum di KSA (Kerajaan Arab Saudi)," kata Altun.
Dilansir dari CNN, kelima tersangka tersebut sebenarnya sudah dijatuhi hukuman mati pada Desember 2019. Namun, pada Mei lalu, putra Khashoggi menyatakan bahwa keluarganya sudah "mengampuni" para tersangka. Dalam hukum Saudi, pengampunan keluarga seperti ini memungkinkan pengurangan hukuman bagi tersangka.
Namun, sejumlah ahli dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap pernyataan pengampunan dari keluarga Khashoggi hanya "parodi peradilan" semata. Komunitas internasional memang menduga Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), merupakan dalang di balik pembunuhan Khashoggi.
Pelapor PBB Agnes Callamard menuding MBS memberi perintah dan menghasut pembunuhan itu. Meski Agnes Callamard mengaku tidak memiliki bukti terhadap MBS, tetapi ia menilai MBS tersangka utama dalam hal memerintahkan orang dan menghasut.
"Begini, saya pikir dia (MBS) adalah tersangka utama dalam hal menentukan siapa yang memerintahkan atau yang menghasut pembunuhan. Dia ada di gambar," kata Callamard. "Secara pribadi, saya tidak memiliki bukti yang mengarah kepadanya sebagai orang yang telah memerintahkan kejahatan."
Khashoggi merupakan seorang kolumnis Washington Post yang kerap mengkritik MbS. Ia dinyatakan tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 setelah sempat dinyatakan hilang. Setelah melakukan investigasi selama enam bulan, pelapor khusus PBB menyimpulkan Saudi melakukan eksekusi yang disengaja dan direncanakan sebelumnya terhadap Khashoggi.
Meski sempat membantah, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh berkeras bahwa kerajaan tak terlibat pembunuhan jurnalis itu.
Riyadh menegaskan pembunuhan itu dilakukan oleh pejabat Saudi dengan perintah gelap. Hingga kini, pengadilan Saudi sudah mendakwa 11 tersangka yang tak disebutkan identitasnya.
(wk/luth)