Menlu AS Mike Pompeo Klaim Pejabat Senior Rusia Perintahkan Racuni Tokoh Oposisi Alexei Navalny
Getty Images
Dunia

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menuding Rusia menggunakan racun saraf Novichok untuk meracuni Alexei Navalny. Ia juga mendesak agar Rusia bertanggung jawab atas kasus ini.

WowKeren - Kasus peracunan tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, rupanya belum juga menemukan titik temu. Kali ini, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, turut ikut campur dan mengatakan ada kemungkinan pejabat senior Rusia yang memerintahkan penggunaan zat saraf Novichok untuk meracuni Navalny.

"Saya pikir orang-orang di seluruh dunia melihat aktivitas semacam ini sebagaimana adanya," kata Pompeo. "Dan ketika mereka melihat upaya untuk meracuni seorang pembangkang dan mereka menyadari bahwa ada kemungkinan besar bahwa ini benar-benar diperintah oleh pejabat senior Rusia, saya pikir ini tidak baik bagi rakyat Rusia," ujarnya menambahkan.

Pompeo menegaskan kembali bahwa AS dan sekutu negara-negara Eropa meminta pertanggungjawaban Rusia. Ia juga mengatakan jika AS akan mencoba mengidentifikasi pelaku di balik upaya pemberian racun terhadap Navalny.

"Itu adalah sesuatu yang kami lihat (dugaan pemberian racun), kami akan mengevaluasi dan akan memastikan melakukan bagian kami uuntuk melakukan apa pun yang kami bisa untuk mengurangi risiko kemungkinan hal-hal seperti itu terulang kembali," lanjut Menlu AS tersebut.

Kendati demikian, pemerintah Rusia mengatakan kalau dugaan peracunan Navalny hanyalah sebuah kampanye disinformasi untuk mempromosikan sanksi baru terhadap Moskow. Kemlu Rusia merilis pernyataan setelah Menteri Luar Negeri G7 pada Selasa (8/9) menuntut agar negara tersebut segera menemukan dan menuntut pihak yang bertanggung jawab atas dugaan keracunan yang dialami Navalny.


"Kampanye disinformasi besar-besaran sedang terjadi yang bertujuan untuk 'memobilisasi sentimen sanksi' dan tidak ada hubungannya dengan kesehatan Navalny atau 'mencari tahu alasan sebenarnya ia dirawat di rumah sakit," tulis kementerian luar negeri Rusia dalam keterangannya.

Menyusul pernyataan G7, Rusia juga menegaskan kembali tuduhan Jerman terkait adanya racun zat saraf Novichok karena telah menolak untuk membagikan informasi lebih rinci terkait kasus Navalny. "Serangan tak berdasar terhadap Rusia terus berlanjut."

Negara-negara G7 termasuk Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang mengatakan bahwa Berlin mengonfirmasi Navalny yang merupakan tokoh oposisi Presiden Valdimir Putin telah diracun. Sebelumnya, Uni Eropa juga sempat mengancam akan menjatuhi sanksi dan memperingatkan Rusia.

Navalny, tokoh yang dikenal selalu mengkritik kepresidenan Rusia, diduga diracun menggunakan Novichok. Racun saraf tersebut adalah zat sama yang menurut Inggris digunakan untuk meracuni agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya dalam serangan di Inggris pada 2018 lalu. Novichok juga merupakan racun digunakan oleh badan intelijen rahasia era Uni Soviet.

Di sisi lain, saat ini Navalny dikabarkan telah sadar dari koma dan kini berada dalam perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman. "Pasien sudah dikeluarkan dari koma medis dan kini juga sudah lepas dari ventilator mekanis. Dia juga sudah merespons stimulan verbal," demikian pernyataan Rumah Sakit Charite.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts