Seorang warga Depok, Jawa Barat, kesulitan mencari ruang perawatan di rumah sakit rujukan bagi kakaknya yang tinggal di Jakarta Pusat dan dinyatakan positif COVID-19.
- Bertilia Puteri
- Senin, 21 September 2020 - 15:09 WIB
WowKeren - Seorang warga Depok, Jawa Barat, yang bernama Hendra membagikan pengalamannya kesulitan mencari ruang perawatan untuk pasien virus corona (COVID- 19) di DKI Jakarta. Awalnya, kakak Hendra yang bernama Tini (nama samaran) dan tinggal sendiri di rumah kos di Jakarta Pusat dinyatakan positif COVID-19.
"Jadi pagi jam 10, tanggal 16 September kakak saya sudah sakit lemas. Kan memang sakit gula," ungkap Hendra dilansir Kumparan pada Senin (21/9). Sang kakak disebutnya sudah terbaring lemas kala memberi kabar di grup keluarga.
Hendra lantas menghubungi ibu kos tempat kakaknya tinggal, dan meminta tolong agar Tini diantarkan ke rumah sakit. "Aku minta tolong ibu kosnya untuk mengantar kakak ke rumah sakit. Di sana dites diabetesnya tinggi sampai 427," lanjut Hendra.
Karena Tini bekerja di salah satu kantor yang tidak menerapkan sistem kerja dari rumah (WFH), Hendra pun meminta untuk dites swab COVID-19. Meski sempat berkeras tidak mau, sang kakak akhirnya menjalani tes swab corona usai dipaksa pihak keluarga. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa hasil tes corona baru akan keluar keesokan harinya.
Tini, yang kondisinya masih lemas, dan ibu kosnya akhinya kembali ke rumah kos dengan menggunakan taksi. "Hasil tes baru diambil malam sama keponakan dan dikasih tahu ke kakak ku jam 9 -an malam. Hasil swab dinyatakan positif corona," jelas Hendra.
Keponakan Hendra langsung datang ke tempat kos Tini untuk memberi tahu hasil tes swab tersebut. Meski kondisinya masih lemah, Tini pun langsung mengisolasi diri begitu tahu dirinya positif COVID-19. Sang ibu kos yang menemani Tini segera memisahkan diri, dan Hendra juga menawari tes swab. Dari sini, Hendra merasakan sulitnya mencari ruang perawatan untuk kakaknya.
"Tanggal 18 pagi aku kontak beberapa rumah sakit di Jakarta by phone, semua penuh. Keponakan juga aku minta cari rumah sakit," tutur Hendra. "Bahkan di rumah sakit swasta rujukan saya bilang saya bayar berapa pun, si petugas bilang 'Ini bukan soal uang Pak, tapi memang penuh'."
Setelah satu hari tidak mendapatkan rumah sakit, Hendra pun kembali menghubungi ibu kos untuk menemani kakaknya pergi ke Puskesmas. Sayangnya, Puskesmas juga tidak banyak membantu. Tini sang kakak akhirnya menunggu kerabatnya datang ke Puskesmas seorang diri, sedangkan sang ibu kos sudah pulang terlebih dahulu.
"Kakakku bingung soalnya ibu kos yang antar langsung pulang," ujar Hendra. "Sempat ngemper di jalan kakakku, sementara keponakan yang datang belakangan juga enggak berani dekat, hanya fotoin kondisi kakakku."
Karena kalut, Hendra meminta Tini kembali ke rumah kos dengan sang keponakan. Tini kemudian diantar ke Puskesmas yang terdekat dari rumah kosnya. Dengan sedikit perdebatan, pihak Puskesmas akhirnya akan membantu untuk membawa Tini ke RS rujukan dan melakukan pendataan. "Tanggal 19 September dari pagi jam 9 sampai jam 2 siang enggak ada kabar dan informasi apa ambulans jemput apa tidak," lanjut Hendra.
Ia pun akhirnya berangkat ke Jakarta dan berkeliling ke sejumlah rumah sakit rujukan. Sayangnya, tetap tidak ada rumah sakit yang menerima karena kapasitasnya penuh, termasuk rumah sakit swasta. Hendra kemudian mengunjungi kos sang kakak di Batu Ceper, Jakpus. Pihak Puskesmas rupanya masih belum menjemput Tini dan belum memberi kepastian.
Hendra pun sempat merasa pasrah karena tidak dapat menemukan ruang perawatan meski ia terus menghubungi sejumlah rumah sakit rujukan. Ia berharap ada keajaiban untuk Tini yang kondisinya sudah semakin lemah.
Akhirnya, adik ipar Hendra memberi kabar untuk mencoba ke rumah sakit Tarakan. Meski sempat dikabari bahwa ruang perawatan penuh, Hendra memohon ke pihak RS Tarakan dan memberi tahu bahwa kondisi kakaknya sudah semakin lemah.
"Akhirnya bisa diterima. Tapi sebelumnya harus konfirmasi dan lapor ke ambulans. Baru pihak RS bisa terima," katanya. "Hubungi ambulans saja susah sibuk. Ambulans baru jemput kakakku jam 5-an sore. Itu prosedurnya ribet juga."
Hendra pun berharap agar kisahnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Situasi di masa pandemi corona ini disebutnya semakin darurat hingga pasien positif kesulitan mencari ruang perawatan di rumah sakit. "Semoga pengalaman saya ini bisa diambil hikmahnya," pungkas Hendra.
(wk/Bert)