Trump Ogah 'Damai' Jika Kalah Dari Joe Biden Di Pilpres AS
AP/Getty Images/Susan Walsh/Drew Angerer
Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak untuk melakukan transisi kekuasaan secara damai jika kalah dari rivalnya, Joe Biden dan Kamala Harris dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) AS.

WowKeren - Perhatian masyarakat Amerika Serikat (AS) saat ini sedang terarah pada Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada 3 November mendatang. Dalam Pemilu tersebut, Presiden AS Donald Trump akan melawan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris untuk menduduki Gedung Putih sebagai pemimpin Negeri Paman Sam.

Baru-baru ini, Presiden Trump memberikan pernyataan mengejutkan terkait Pilpres AS. Ia mengaku tidak berkomitmen untuk memberikan transisi kekuasaan yang damai jika kalah dalam Pemilu melawan Joe Biden. "Yah, kita harus melihat apa yang terjadi nanti," kata Trump seperti dilansir dari Global News, Rabu (23/9).

Trump enggan berkomitmen pada transisi damai karena khawatir dengan pemungutan suara yang dilakukan melalui mail-in-ballots. Ia menyatakan jika pemungutan suara dengan cara tersebut sangat rawan dengan penipuan.

"Anda tahu bahwa yang saya sangat mengeluhkan tentang surat suara," kata Trump pada konferensi pers di Gedung Putih. "Dan surat suara itu adalah bencana."


Sebagai informasi, transisi damai sendiri merupakan salah satu pilar demokrasi di Amerika. Tentunya pernyataan Trump itu langsung mendapatkan sorotan dari berbagai pihak karena dinilai tidak mendukung proses demokrasi yang baik.

Trump sebelumnya juga sempat berargumen terkait apakah dirinya akan menerima hasil pemilu. Dengan nada bercanda, Trump saat itu menyatakan jika dirinya akan tetap menjabat sebagai Presiden AS hingga melewati dua masa jabatan yang selama ini sudah terikat secara konstitusional.

Keinginan Trump yang ingin menjabat sebagai presiden hingga lebih dari dua periode telah menciptakan kekhawatiran bagi lawan-lawannya di politik. Terlebih, Trump saat ini memiliki kuasa untuk memadamkan aksi protes di kota-kota Amerika.

Partai Demokrat contohnya sudah sejak lama khawatir bahwa Trump mungkin berusaha mempertahankan kekuasaan menggunakan otoritas presiden. Bahkan, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS, Nancy Pelosi selama musim panas terus menyarankan agar Trump harus disingkirkan dari jabatannya jika dia menolak menerima hasil pemilu mendatang.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts