PM Israel Benjamin Netanyahu Bawa Satu Kargo Pakaian Kotor dan Numpang Nyuci di Gedung Putih AS
Getty Images/SEBASTIAN SCHEINER-AFP
Dunia

Menurut keterangan seorang pejabat AS, Netanyahu membawa kargo khusus dalam perjalanannya di pesawat menuju ke Washington D.C. Tas dan kopernya bahkan penuh dengan pakaian kotor.

WowKeren - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan istrinya, Sara, dilaporkan sengaja membawa pakaian kotor untuk dicuci dengan memanfaatkan jasa binatu AS saat melakukan kunjungan kenegaraan ke negeri Paman Sam tersebut.

Hal itu diungkap oleh seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya. Sebagaimana diketahui, belum lama ini Netanyahu memang berkunjung ke AS untuk menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Menurut keterangan pejabat itu, Netanyahu membawa kargo khusus dalam perjalanannya di pesawat menuju ke Washington D.C. Tas dan kopernya, kata sang sumber, penuh dengan pakaian kotor. Ia bahkan menyebut kalau Netanyahu adalah satu-satunya pejabat yang sengaja membawa pakaian kotor untuk dicucikan di Gedung Putih AS.

Pakaian kotor Netanyahu dilaporkan dicuci secara gratis oleh staf kepresidenan AS. Layanan itu memang disediakan untuk semua pemimpin asing, tetapi jarang dimanfaatkan mengingat masa tinggal para kepala negara yang sangat singkat.

"Netanyahu adalah satu-satunya (pejabat) yang membawa koper cucian kotor dalam arti sebenarnya untuk kami bersihkan. Setelah beberapa kali perjalanan, menjadi jelas bahwa ini sepertinya memang disengaja," ucap pejabat tersebut.


Namun para pejabat Israel membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak masuk akal. Kendati demikian, para pejabat Israel mengaku bahwa Netanyahu telah menjadi sasaran tuduhan terkait binatu di masa lalu. Pada 2016, Netanyahu menggugat kantornya sendiri dan Jaksa Agung Israel supaya tagihan jasa mencuci pakaiannya tidak bisa diungkap dengan Undang-Undang Kebebasan Informasi Negara.

Hakim disebut berpihak pada Netanyahu, dan detail tagihan cucian kotornya tetap dirahasiakan, hingga menunggu sidang banding di Mahkamah Agung. Tuduhan terhadap Netanyahu terkait kasus tagihan jasa binatu itu menjadi satu dengan daftar tuduhan kasus korupsi yang kini membelitnya. Perkara itu membuat pemimpin berusia 70 tahun itu terancam kehilangan kekuasaan dan memicu protes di Israel bulan ini.

Netanyahu sendiri didakwa korupsi pada November tahun lalu terkait gratifikasi dan menerima hadiah dari rekan-rekan konglomerat, dengan harapan mengubah regulasi bagi media massa dengan imbalan pemberitaan yang positif. Dakwaan tersebut mengungkapkan bahwa Netanyahu menerima hadiah hampir USD200 ribu dari sejumlah pebisnis, termasuk sampanye dan cerutu. Sidang dibuka pada Mei dan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada Januari 2021.

Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Washington menyatakan tuduhan Netanyahu memanfaatkan jasa binatu adalah upaya untuk menutupi keberhasilan perjanjian normalisasi yang ditandatangani Israel, Bahrain dan Uni Emirat Arab di Gedung Putih pekan lalu.

"Tuduhan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal ini ditujukan untuk meremehkan pencapaian monumental Perdana Menteri Netanyahu dalam KTT perdamaian bersejarah hari Selasa yang ditengahi oleh Presiden Trump di Gedung Putih," kata Kedutaan Besar Israel dalam sebuah pernyataan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts