Kenang Kematian Sang Ayah, Indra Herlambang Tahan Tangis Akui Takut Dilupakan
Instagram/indraherlambang
Selebriti

Indra Herlambang membagikan pendapat soal ketakutan terbesar dalam hidupnya. Indra Herlambang pun kemudian bercerita mengenai kematian sang ayah untuk menjelaskan ketakutan terbesarnya.

WowKeren - Indra Herlambang berbagi mengenai ketakutan terbesar dalam hidupnya. Hal itu diungkapkan Indra saat menjadi bintang tamu di program acara "Deddy's Corner". Kepada Deddy Corbuzier yang menjadi pembawa acara dalam tayangan tersebut, Indra mengungkap bahwa ketakutan terbesarnya bukanlah kematian, tapi dilupakan.

"Gue itu tidak pernah takut dengan kematian. Sudah beberapa kali dalam hidup gue dihadapkan sangat dekat sekali dengan kematian. And surprisingly I'm okay with that. Jadi kematian bukan nightmare terbesar gue. Nightmare terbesarnya adalah dilupakan," ungkap Indra Herlambang dalam "Deddy's Corner" dilansir dari Insertlive.com pada Sabtu (24/10).

Untuk menjelaskan maksudnya, Indra kemudian bercerita mengenai kematian sang ayah. Indra bercerita mengenai benda yang ia gunakan untuk selalu mengingat almarhum sang ayah. Indra pun bercerita dengan suara bergetar karena menahan tangis.


"Maksudnya adalah, emm, bapak itu, almarhum meninggal 8-9 tahun yang lalu. Dan aku simpen satu sarung yang sering beliau pakai. Mau ke mana pun aku bawa sarung itu karena di sarung itu masih ada aroma bapak. Aromanya adalah aroma minyak kelapa yang udah lama banget. Karena beliau suka diurut pakai minyak kelapa. Itu selalu aku bawa dan selalu aku hirup gitu," ujar Indra.

Presenter dan aktor berusia 44 tahun itu kemudian bercerita soal aroma sang ayah yang lama-lama pudar dari sarung tersebut. Sama seperti aroma sang ayah di sarung tersebut, Indra mengaku takut jika lama kelamaan kenangan atau ingatannya akan sesuatu juga akan memudar seiring berjalannya waktu.

"Tahu nggak sih bahwa aroma itu pelan-pelan memudar. Tahun demi tahun nggak ada lagi aromanya di situ. Ketakutan terbesar aku itu adalah, gimana kalau suatu ketika nanti tiba-tiba gue lupa ya? Tentang semua, tentang bokap, tentang memori-memori kecil. Gue digendong ketiduran di depan TV diteruh di kamar, gue diajarin ekonomi waktu itu. Hal-hal seperti itu tu kekhawatiran terbesar gue," pungkas penulis skenario film "Mereka Bilang Saya Monyet" itu.

(wk/amel)

You can share this post!

Related Posts