Ketegangan antara Prancis dan Turki memuncak akhir pekan lalu ketika Erdogan mempertanyakan kesehatan mental Macron yang dituding menghina umat Islam.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 02 November 2020 - 14:43 WIB
WowKeren - Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menunjukkan rasa hormat dan tidak melontarkan hinaan. Macron juga menganggap Turki menunjukkan sikap berperang terhadap sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sebagaimana diketahui, Prancis dan Turki merupakan sama-sama anggota NATO.
"Turki memiliki sikap permusuhan terhadap sekutu NATO," katan Macron dalam sebuah wawancara, sebagaimana dilansir dari CNN pada Senin (2/11).
Lebih lanjut, Macron mengatakan bahwa Prancis menginginkan segala sesuatunya "tenang". Karena itu dia menyerukan Erdogan menghormati Prancis, menghormati Uni Eropa, serta menghormati nilai-nilainya, juga tidak berbohong dan tidak melontarkan hinaan.
Dia mencatat bahwa Prancis telah menyampaikan belasungkawa kepada Turki setelah gempa mematikan di Laut Aegea. Prancis juga menawarkan mengirim bantuan ke lokasi bencana.
Dalam kesempatan itu, Macron juga menyinggung intervensi Turki di Suriah, Libya dan Mediterania. Dia menyebut intervensi Turki di Suriah sebagai sesuatu yang mengejutkan. Macron menilai campur tangan Turki di negara itu merupakan agresi bagi sekutu NATO.
Presiden Prancis itu menyebut Ankara tidak menghormati embargo senjata di Libya, serta menunjukkan sikap sangat agresif di Mediterania timur. "Saya perhatikan bahwa Turki memiliki kecenderungan imperial di kawasan dan saya pikir kecenderungan imperial ini bukanlah hal yang baik untuk stabilitas kawasan, itu saja," paparnya.
Ketegangan antara Prancis dan Turki memuncak akhir pekan lalu ketika Erdogan mempertanyakan kesehatan mental Macron. Selain itu, Erdogan juga diketahui tengah menyerukan memboikot produk Prancis.
Seruan boikot yang dilakukan Erdogan ini terjadi setelah Presiden Macron memberikan komentar yang membela sekularisme Prancis dan mengkritik Islam radikal. Macron dianggap melindungi majalah yang menghina Nabi Muhammad dengan mengatasnamakan kebebasan pers.
Namun pada hari Sabtu (31/10), Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian mengatakan Prancis akan mengirim kembali duta besar ke Ankara setelah absen sepekan. "Kami meminta duta besar kami untuk kembali ke Ankara besok untuk menindaklanjuti permintaan klarifikasi dan penjelasan ini dengan otoritas Turki," ujarnya.
(wk/luth)