Prancis kembali membuka sekolah untuk pertama kalinya pada Senin (2/11). Pembukaan ini setelah terjadinya insiden pemenggalan kepala seorang guru Samuel Paty yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas.
- Nidya Putri
- Selasa, 03 November 2020 - 13:22 WIB
WowKeren - Prancis kembali membuka sekolah untuk pertama kalinya pada Senin (2/11). Dua belas juta murid di Prancis akhirnya kembali ke sekolah setelah insiden pemenggalan kepala seorang guru Samuel Paty yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas.
Untuk menghormati Paty, sekolah-sekolah membuat momen mengheningkan cipta selama satu menit pada pukul 11.00. Selain itu, para guru mengingatkan murid-murid tentang hak dan kewajiban mereka dalam kehidupan "demokrasi bebas".
Paty dibunuh di pinggiran kota kelas menengah Paris pada malam libur dua minggu. Presiden Emmanuel Macron menganggap pembunuhan itu sebagai serangan terhadap nilai-nilai Prancis dan Republik itu sendiri.
Prancis berada pada tingkat keamanan tertinggi setelah beberapa serangan lebih lanjut terjadi sejak pembunuhan Paty, termasuk di sebuah gereja di Nice dan terhadap seorang pendeta di Lyon. Pemerintah mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi tempat-tempat ibadah dan sekolah.
Perdana Menteri Jean Castex dan menteri pendidikannya akan memberi penghormatan bersama staf di Le Bois d'Aulne, sekolah tempat Paty mengajar. Sekolah menengah tersebut masih akan ditutup untuk siswa hingga Selasa.
Macron sendiri menggambarkan Paty sebagai "pejuang kebenaran" yang berdedikasi untuk menanamkan pada murid-muridnya nilai-nilai dasar Prancis tentang kebebasan berkeyakinan dan berekspresi. Paty menjadi "wajah Republik, keinginan kita untuk mematahkan keinginan para teroris ... dan untuk hidup sebagai masyarakat warga negara yang bebas di negara kita," katanya dalam dalam upacara yang disiarkan televisi pada 21 Oktober lalu.
Guru-guru di seluruh Prancis juga akan membacakan surat yang ditulis untuk para guru oleh Jean Jaures. Melalui surat, tokoh politik abad ke-19 itu menjelaskan peran guru dalam membina pemuda.
"Mereka akan menjadi warga negara dan mereka harus tahu apa itu demokrasi bebas, hak apa yang diberikan kepada mereka, kewajiban apa yang dibebankan oleh kedaulatan negara kepada mereka," tulis Jaures.
Sementara itu, Prancis saat ini tengah menghadapi kemarahan umat Muslim dari seluruh dunia terkait pernyataan kontroversial Macron. Bahkan sejumlah negara telah menyerukan aksi boikot produk Prancis.
(wk/nidy)