Pada Rabu (28/10) pekan lalu jumlah suspeknya lebih dari 160 ribu orang. Namun secara mendadak menyusut hingga tersisa 60 ribuan suspek pada Kamis (29/10) yang ternyata karena alasan berikut.
- Elvariza Opita
- Rabu, 04 November 2020 - 14:31 WIB
WowKeren - Selain jumlah kasus positif COVID-19 yang telah terkonfirmasi, Indonesia juga mencatatkan pasien yang masih berstatus suspek. Namun rupanya sempat terjadi simpang siur data suspek COVID-19 di Indonesia, yakni perkara "hilangnya" 100 ribu orang dari kategori tersebut.
Kejanggalan ini terjadi pada 28 dan 29 Oktober 2020 pekan lalu. Dilansir dari infografis yang diunggah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di akun Twitter-nya, jumlah suspek COVID-19 pada Rabu (28/10) pekan lalu adalah sebanyak 169.833 orang. Namun secara mendadak jumlahnya berkurang drastis pada Kamis (29/10) menjadi 68.888 suspek.
Perihal hilangnya 100 ribu suspek ini pun akhirnya mendapat tanggapan dari Satuan Tugas Penanganan COVID-19. Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menegaskan penurunan jumlah suspek ini semata-mata karena adanya perbaikan dan penyelarasan data pelaporan perkembangan kasus di sejumlah wilayah dan pusat.
"Ini merupakan bagian dari proses satu," kata Wiku, Selasa (3/11). "Dari data COVID-19, data pusat, dan data daerah."
Pada kesempatan itu Wiku juga menjelaskan bahwa pihaknya selalu mendorong agar kepala pemerintahan daerah menggelar testing COVID-19 secara maksimal dan menyeluruh. Satgas menilai diperlukan evaluasi terhadap operasional laboratarium pemeriksaan. Apalagi karena belakangan timbul tren penurunan jumlah testing saat akhir pekan serta libur panjang.
"Ini merupakan salah satu tantangan yang sedang kita coba selesaikan," ujar Wiku, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (4/11). "Ingat bahwa virus ini tidak pernah libur, sehingga adanya hari libur bisa diantisipasi ke depannya misalnya melalui operasional lab, melakukan penambahan shift kerja laboratorium, serta pertimbangan intensif yang memadai."
Di sisi lain, perihal pendataan kasus COVID-19 di Indonesia memang kerap kali menjadi sorotan. Bahkan perkara pendataan pasien meninggal akibat infeksi virus Corona pun sempat disinggung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Masih seperti sebelumnya, WHO sangat menyoroti soal Indonesia yang hanya melaporkan jumlah kematian akibat konfirmasi COVID-19. WHO menegaskan bahwa kasus meninggal yang berkaitan dengan COVID-19, seperti probable, juga harus dihimpun.
(wk/elva)