Kementerian Luar Negeri Rusia menilai kegaduhan Pilpres AS 2020 menjadi cerminan perundangan yang ketinggalan zaman dan kurangnya regulasi atas sistem pemilihan umum di Negeri Paman Sam tersebut.
- Nidya Putri
- Jumat, 06 November 2020 - 10:06 WIB
WowKeren - Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) 2020 diwarnai kekacauan di sejumlah negara bagian. Salah satunya seperti demo yang menuntut penghentian penghitungan suara.
Kementerian Luar Negeri Rusia menilai kegaduhan Pilpres AS 2020 menjadi cerminan perundangan yang ketinggalan zaman dan kurangnya regulasi atas sistem pemilihan umum di Amerika Serikat. Juru bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova mengatakan kedua kandidat presiden, Joe Biden dan Donald Trump, memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan pilpres ini.
"Yang terjadi jelas menunjukkan kekurangan dalam sistem pemilu Amerika Serikat," kata Zakharova. "Hal ini sebagian disebabkan dari undang-undang terkait yang kuno dan kurangnya regulasi di sejumlah poin fundamental."
Dirinya juga mengatakan Rusia berharap Amerika Serikat bisa memilih presiden selanjutnya dengan 'kepatuhan penuh dengan konstitusi Amerika'. "Dan yang paling penting adalah menghindari terjadinya kerusuhan massal di berbagai wilayah," lanjutnya.
Tak sampai di situ, seorang pengamat dari the Organization for Security and Co-operation in Europe yang memantau pemilu di Amerika dan Rusia, tidak menemukan bukti kecurangan pemilu. Pengamat internasional itu juga mengatakan "tuduhan tak berdasar" dari Trump mengikis kepercayaan rakyat pada demokrasi.
Sementara itu, kekacauan pecah di Departemen Pemilihan Maricopa County, Arizona. Pasalnya, kelompok demonstran pendukung Trum memaksa masuk dan berniat untuk ikut menghitung hasil surat suara penentu pilpres AS.
Tak hanya Arizona, di Detroit juga terjadi gelombang protes dimana para demonstran meneriakkan aspirasi untuk menghentikan penghitungan. Protes di beberapa tempat itu diduga kuat karena dipicu oleh Trump yang telah berulang kali membuat klaim palsu tentang surat suara yang masuk pada keunggulannya.
Sejauh ini suara elektoral Biden masih lebih tinggi dibandingkan Trump. Joe Biden meraup 264 suara elektoral, sementara Trump mengantongi 214 suara elektoral.
(wk/nidy)