Warga dievakuasi dengan mengunakan mobil pribadi, mobil terbuka, minibus, hingga ambulans. Evakuasi perlu dilakukan untuk meminimalisir jumlah korban jika terjadi situasi kritis.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 06 November 2020 - 16:04 WIB
WowKeren - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah menaikkan status Gunung Merapi dari level II (waspada) menjadi level III (siaga) pada Kamis (5/11). Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi dan pemantauan pada aktivitas gunung yang kian meningkat.
Sebagai langkah mitigasi bencana, ratusan warga di Kawasan Rawan Bencana (KRB) erupsi Gunung Merapi mulai dievakuasi ke desa penyangga masing-masing. Evakuasi mulai dilakukan pada hari ini, jumat (6/11). Proses evakuasi dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Magelang, bersinergi dengan TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), instansi terkait dan relawan.
Warga dievakuasi dengan mengunakan mobil pribadi, mobil terbuka, minibus, hingga ambulans. Evakuasi perlu dilakukan agar ketika nanti terjadi situasi kritis akibat meletusnya Gunung Merapi, korban jiwa yang ditimbulkan tidak begitu banyak.
Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Magelang, Nanda Cahyadi Pribadi. "Warga dievakuasi ke desa-desa penyangga yang telah ditentukan, mulai hari ini," jelas Nanda di kantor Pemkab Magelang, Jumat (6/11).
Ratusan warga tersebut berasal dari 9 wilayah dusun yang direkomendasikan oleh BPPTKG Yogyakarta. Sebab wilayah-wilayah ini paling dekat dengan Puncak Merapi. Warga yang diprioritaskan untuk dievakuasi adalah kaum rentan yang terdiri dari lansia, anak-anak, ibu hamil dan orang sakit.
Jumlah warga yang dievakuasi diperkirakan mencapai 500 orang. Kendati demikian, Nanda menyebut jika jumlah ini masih bisa bertambah. Ia berharap agar aktivitas Merapi kembali normal.
"Ini hanya data sementara saja, mungkin sewaktu-waktu juga bisa bertambah melihat situasi dan kondisinya juga," tuturnya. "Tapi semoga saja kondisi Merapi bisa melandai lagi."
(wk/zodi)