Mantan ajudan itu menyebut bahwa Melania sudah tidak sabar mengakhiri pernikahan transaksional tersebut. Menurutnya, Melania sudah putus asa dengan pernikahannya bersama Trump.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 09 November 2020 - 12:47 WIB
WowKeren - Rumah tangga Donald Trump dan Melania memang sudah sering digosipkan tidak harmonis. Kini, mantan ajudan Donald Trump menyebut bahwa Melania akan segera menceraikan suaminya itu setelah kalah di pilpres AS melawan pesaingnya dari Partai Demokrat, Joe Biden.
Mantan ajudan bernama Omarosa Manigault itu menyebut bahwa Melania sudah tidak sabar mengakhiri pernikahan transaksional tersebut. Menurut Omarosa, Melania sudah putus asa dengan pernikahannya bersama Trump.
"Melania menghitung setiap menitnya sampai Donald Trump bisa keluar dari jabatannya dan dia bisa bercerai," ujar Omarosa, seperti dikutip dari Mirror. "Jika Melania melakukan penghinaan dengan meninggalkannya saat Trump masih menjabat, maka ia akan mencari cara untuk menghukum Melania."
Saat Donald Trump terpilih sebagai presiden di 2016 lalu, kabarnya Melania Trump tidak senang dengan hal tersebut. Ia tidak menyangka bahwa sang suami memenangkan pilpres kala itu. Melania dan Donald bahkan dikabarkan pisah kamar selama berada di Gedung Putih. Omarosa menyebut bahwa pernikahan mereka saat itu adalah transaksional.
Melania pun seolah-olah mengulur waktu untuk pindah ke Gedung Putih saat itu. Butuh waktu lima bulan untuk Melania Trump pindah ke Washington dari New York dengan alasan sekolah putranya, Barron Trump.
Di sisi lain, pasangan capres-cawapres Biden-Harris berhasil meraih posisi presiden-wakil presiden setelah melewati perolehan 270 suara elektoral. Sedangkan rivalnya, Trump-Pence, meraih 213 suara elektoral. Dalam pernyataan resminya, Biden mengungkapkan rasa bangga akan kepercayaan rakyat AS padanya dan Kamala Harris untuk mengampu masa jabatan berikutnya.
Pada Minggu (8/11), Biden melakukan pidato kemenangan pertamanya usai memenangkan pemilu AS di Wilmington, Delaware. "Kami menang dengan suara terbanyak yang pernah diberikan untuk tiket presiden dalam sejarah bangsa, 74 juta," tegas Biden.
Biden juga mengirimkan pesan kepada mereka yang memilih Trump dengan menyerukan persatuan dan rekonsiliasi. Ia menegaskan sudah waktunya kedua belah pihak untuk saling mendengarkan lagi.
"Sudah waktunya untuk menyingkirkan retorika kasar, menurunkan suhu, bertemu lagi, saling mendengarkan lagi dan untuk membuat kemajuan, kita harus berhenti memperlakukan lawan kita sebagai musuh kita. Mereka bukan musuh kita. Mereka orang Amerika," imbuh Biden.
"Saya berjanji untuk menjadi presiden yang berupaya untuk tidak memecah belah, tetapi mempersatukan, yang tidak melihat negara bagian merah dan negara bagian biru, tetapi hanya melihat Amerika Serikat," lanjut Biden.
(wk/luth)