Dubes Prancis mengungkapkan negaranya telah berusaha mengklarifikasi dan menjelaskan pernyataan Macron kepada dunia Islam. Namun, ia tidak sepenuhnya menganggap pernyataan Macron keliru.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 10 November 2020 - 09:49 WIB
WowKeren - Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Olivier Chambard, mengatakan negaranya bertekad melawan dan memerangi terorisme. Menurutnya, 80 persen korban dari aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam adalah Muslim di seluruh dunia.
Chambard juga menyebut sudah banyak Muslim yang tewas akibat aksi teror semacam itu. "Dengan memerangi terorisme, kita berperang bersama negara Muslim yang menjadi korban terorisme, khususnya Indonesia," ujarnya saat menggelar temu media di Kedubes Prancis di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Republika.
Pada kesempatan itu Chambard juga kembali mengklarifikasi pernyataan Presiden Prancis Emanuel Macron yang menyebut Islam adalah agama dalam krisis. Dia mengaku cukup menyayangkan mengapa pernyataan itu dipandang sebagian bagian utama dalam pidato.
Kendati demikian, Chambard menekankan bahwa ia tidak sepenuhnya menganggap pernyataan Macron keliru. Menurutnya, setiap agama pasti memiliki krisis, termasuk Islam.
"Islam tidak menyokong terorisme, tentu itu benar. Kendati demikian, Anda memiliki orang-orang mengatakan 'saya membunuh orang atas nama Islam'. Ini menimbulkan masalah untuk agama," katanya.
Chambard mengungkapkan Prancis telah berusaha mengklarifikasi dan menjelaskan pernyataan Macron kepada dunia Islam. Dia berharap negara-negara Muslim tidak mendengarkan berita palsu terkait pernyataan Macron.
Dia menekankan, Prancis tidak memiliki masalah dengan Islam. Chambard menyebut terdapat enam juta Muslim di Prancis yang hidup damai. "Jadi Islam dikenal baik di Prancis dan menghormatinya," ucapnya.
Kisruh di Prancis sendiri bermula setelah majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September lalu. Penerbitan ulang dilakukan untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015 silam.
Ketika itu, 12 orang termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.
Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam dan menyuarakan ujaran anti-Islam. Sementara, Presiden Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah dengan dalih kebebasan berekspresi.
Tak hanya itu, Emmanuel Macron menyebut Islam tengah mengalami krisis. Dia juga menuding Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di Prancis. Hal ini membuatnya menuai kecaman dari banyak pihak, termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.
(wk/luth)