Seperti Regeneron yang diterima Presiden AS Trump, antibodi monoklonal diberikan untuk memicu sistem kekebalan tubuh pasien COVID-19, namun khusus untuk yang bergejala ringan dan sedang.
- Elvariza Opita
- Kamis, 12 November 2020 - 15:15 WIB
WowKeren - Sampai kini belum ada metode pengobatan yang benar-benar terbukti efektif secara ilmiah mengobati COVID-19. Namun baru-baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengizinkan penggunaan darurat infus antibodi monoklonal yang diproduksi perusahaan farmasi Eli Lilly.
Namun yang boleh menerima perawatan ini hanya mereka yang bergejala ringan dan sedang, serta pada pasien anak-anak dan dewasa. Selain itu yang bisa mengaksesnya hanya apabila pasien dirawat di fasilitas kesehatan sesuai standar FDA.
Lantas bagaimana cara kerja dari antibodi monoklonal ini? Patut dipahami bahwa antibodi monoklonal yang dipasarkan adalah jenis Bamlanivimab, yakni protein buatan laboratorium yang mampu menirukan kemampuan sistem imun tubuh dalam melawan antigen berbahaya seperti virus.
Dalam pernyataannya, FDA menjelaskan Bamlanivimab secara spesifik mengincar protein paku dari virus penyebab COVID-19. "Bamlanivimab adalah sebuah antibodi monoklonal yang secara spesifik diarahkan untuk melawan protein paku pada SARS-CoV-2, didesain untuk menghalangi virus itu bisa menempel dan menginfeksi sel manusia," terang FDA, dilansir pada Kamis (12/11).
Perihal izin darurat ini didasarkan pada hasil studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada Oktober 2020 kemarin. Dalam studi itu disimpulkan bahwa terapi antibodi monoklonal bisa menurunkan risiko rawat inap dan menghilangkan beberapa gejala dalam sejumlah kecil pasien bergejala ringan dan sedang.
Dalam pedomannya, FDA menegaskan bahwa terapi antibodi monoklonal ini harus segera diberikan setelah tes menunjukkan hasil positif terinfeksi virus SARS-CoV-2, maksimal dalam 10 hari pertama munculnya gejala. Yang pasti, terapi ini tidak diizinkan untuk pasien dengan gejala yang sudah parah atau kritis.
Namun izin yang dikeluarkan juga menuai kekhawatiran dari para pejabat tinggi medis AS, terutama dari aspek teknisnya. Sebab dengan pedoman seperti disebutkan di atas, pasien yang akan menerima infus antibodi monoklonal bukanlah pasien rawat inap.
Apalagi ditambah dengan infus berdosis 700 miligram itu memerlukan waktu 1 jam untuk habis. Baru diperlukan satu jam tambahan untuk memantau reaksi yang dirasakan penerima infus.
(wk/elva)