Korea Utara menyebut badan pengawas nuklir PBB (IAEA) sebagai 'boneka yang menari mengikuti irama' negara-negara Barat usai menyatakan negeri tersebut telah melanggar hukum internasional.
- Nidya Putri
- Jumat, 13 November 2020 - 13:29 WIB
WowKeren - Korea Utara dibuat geram oleh badan pengawas nuklir PBB (IAEA) lantaran melaporkan bahwa simpanan senjata nuklir negara tersebut melanggar hukum internasional. Pihak Korut pun menyebut IAEA sebagai "boneka yang menari mengikuti irama" negara-negara Barat.
Dikutip dari Associated Press, Jumat (13/11), Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song menyampaikan hal itu pada pertemuan Majelis Umum PBB, di mana direktur eksekutif Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyebut kegiatan nuklir Korut "sangat disesalkan" dan dianggap sebagai "pelanggaran yang jelas" terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.
Seperti yang diketahui, Korea Utara memiliki fasilitas untuk memproduksi plutonium dan uranium yang diperkaya, dua bahan utama untuk membuat bom, di kompleks nuklir utama Yongbyon di utara ibu kota Korut, Pyongyang.
IAEA tidak memiliki pengawas di Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) - sejak Pyongyang mengusir mereka pada tahun 2009. Badan tersebut mengatakan dalam laporan 1 September bahwa mereka terus mempersiapkan pengawas untuk kembali jika pemimpin Korut, Kim Jong Un memutuskan untuk menerima mereka kembali.
Grossi mengatakan IAEA memantau aktivitas nuklir Korea Utara menggunakan citra satelit dan informasi open source. Dia mengatakan "badan tersebut sedang mengintensifkan kesiapannya untuk memainkan peran penting dalam memverifikasi program nuklir DPRK."
Song menuduh IAEA kurang "imparsialitas dan objektivitas" sebagai organisasi internasional. Bahkan, dia menilai IAEA "tidak lebih dari alat politik negara-negara Barat".
"Ini adalah penilaian kami terhadap IAEA saat ini, seperti yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu," kata Song kepada 193 anggota Majelis Umum. "Kami meninggalkan IAEA sejak lama dan tidak melupakan tindakan tercela mereka karena memihak pasukan musuh dalam manuver mereka untuk menekan kami, meningkatkan 'kecurigaan' tentang fasilitas nuklir damai DPRK pada awal 1990-an."
"Saya ingin memperjelas sekali lagi bahwa DPRK tidak akan pernah memiliki urusan apa pun untuk berurusan dengan IAEA selama tidak ada ketidakberpihakan dan objektivitas, dan tetap menjadi boneka yang menari mengikuti irama kekuatan musuh melawan DPRK," imbuhnya.
Sementara itu, Grossi meminta Korea Utara untuk mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB, bekerja sama dengan badan nuklir, menerapkan Perjanjian Pengamanan Traktat Nonproliferasi Nuklir, "dan menyelesaikan semua masalah yang luar biasa, terutama yang muncul selama ketidakhadiran pengawas badan dari negara tersebut."
(wk/nidy)