Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Prancis pada 11 November melaporkan terjadi ledakan bom di pemakaman non-Muslim di Jeddah saat upacara peringatan berakhirnya Perang Dunia I.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 13 November 2020 - 14:45 WIB
WowKeren - Kelompok teroris ISIS mengatakan pengeboman yang terjadi di pemakaman non-Muslim di Jeddah, Arab Saudi, pada Rabu (11/11) dilakukan sebagai bentuk protes terhadap publikasi karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satire asal Prancis, Charlie Hebdo. Kelompok tersebut juga mengklaim bahwa serangan ini adalah dukungan untuk Nabi Muhammad.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, teror tersebut berlangsung ketika upacara peringatan Perang Dunia I dan dihadiri diplomat-diplomat negara Eropa, termasuk perwakilan dari konsulat Prancis di Jeddah. Insiden itu setidaknya melukai dua orang.
ISIS melalui media propagandanya, Amaq, mengatakan bahwa, "Serangan itu utamanya ingin menargetkan konsul Prancis atas ketidakpedulian negaranya terkait penerbitan kartun-kartun yang menghina Nabi Allah."
Dilansir dari CNN, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Melalui saluran telegramnya, ISIS mengatakan para anggotanya telah "memasang alat peledak" di lokasi kejadian. "Serangan itu dilakukan untuk mendukung Nabi Muhammad," kata ISIS dalam pernyataannya.
Kementerian Luar Negeri Saudi mengutuk teror bom tersebut dan menegaskan akan menggelar penyelidikan untuk mencari pelaku yang bertanggung jawab dalam serangan tersebut. Serangan bom itu tercatat sebagai insiden teror kedua yang terjadi di Jeddah. Bulan lalu, warga Arab Saudi melukai seorang penjaga di konsulat Prancis di Jeddah dengan menggunakan pisau.
Kejadian itu terjadi di hari yang sama ketika seorang pria bersenjatakan pisau membunuh tiga orang di Gereja Notre Dame Basilica di Nice, Prancis selatan pada 29 Oktober. Sebelumnya, seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal kepalanya usai menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang ia ajar.
Kisruh ini bermula setelah majalah Charlie Hebdo mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September lalu. Penerbitan ulang dilakukan untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015 silam.
Ketika itu, 12 orang termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.
Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam dan menyuarakan ujaran anti-Islam. Sementara, Presiden Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah dengan dalih kebebasan berekspresi.
Tak hanya itu, Emmanuel Macron menyebut Islam tengah mengalami krisis. Dia juga menuding Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di Prancis. Hal ini membuatnya menuai kecaman dari banyak pihak, termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.
(wk/luth)