Bukan hanya menyinggung klaim Trump, Obama juga menyayangkan sikap serupa yang ditunjukkan oleh orang-orang dan pejabat terdekatnya yang ikut memberikan tuduhan tak berdasar atas adanya kecurangan pemilu.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 14 November 2020 - 10:04 WIB
WowKeren - Presiden AS Donald Trump hingga kini diketahui masih tak menerima hasil pilpres AS 2020, di mana Joe Biden menjadi Presiden terpilih periode selanjutnya. Bahkan, Trump dan pihaknya menuding adanya kecurangan di pilpres AS, serta mengatakan bakal membawa masalah ini ke ranah hukum meski tak memiliki bukti.
Terkait hal tersebut, mantan Presiden Barack Obama akhirny turut buka suara. Obama dengan tegas mengatakan bahwa klaim Trump bisa membahayakan demokrasi di Amerika Serikat hanya karena ia tak mau mengakui kekalahan.
"Mereka (para pendukung Trump) tampaknya termotivasi, sebagian, karena Presiden (Trump) tidak suka kalah, dan tidak pernah mengakui kerugian," kata Obama, sebagaimana dilansir dari CNN.
Bukan hanya menyinggung klaim Trump, Obama juga menyayangkan sikap serupa yang ditunjukkan oleh orang-orang dan pejabat terdekatnya yang ikut memberikan tuduhan tak berdasar atas adanya kecurangan pemilu. "Saya lebih bermasalah dengan fakta bahwa pejabat lainnya yang jelas tahu lebih baik setuju dengan ini, menghiburnya dengan cara ini," lanjutnya.
"Ini adalah satu langkah dalam mendelegitimasi, bukan hanya pemerintahan Biden yang akan datang, tetapi juga demokrasi secara umum. Dan itu jalan yang berbahaya," lanjutnya lagi.
Trump sejak awal menyatakan jika ia kalah maka akan menolak untuk mengalihkan kekuasaan secara damai. Selain menuntut hasil pemilu ke pengadilan, Trump dan pemerintahannya disebut berupaya mempersulit proses transisi pemerintahan kepada Biden.
Kepala Pelayanan Umum Pemerintahan (General Services Administration/GSA) yang dipilih Trump, Emily Murphy, masih menolak menandatangani sejumlah dokumen agar masa transisi bisa segera dimulai. Tanpa persetujuan GSA, dana transisi dan sumber daya lainnya tidak dapat mengalir ke Biden dan timnya.
Selain itu, Biden dan tim transisinya juga masih belum diberi akses terhadap informasi intelijen. Trump bahkan melarang Kemlu AS memberi Biden akses terhadap tumpukan pesan dari sejumlah kepala negara asing.
Terlepas dari hal tersebut, pasangan capres-cawapres Joe Biden-Kamala Harris berhasil meraih posisi presiden-wakil presiden setelah melewati perolehan 270 suara elektoral. Sedangkan rivalnya, Trump-Pence, meraih 214 suara elektoral. Dalam pernyataan resminya, Biden mengungkapkan rasa bangga akan kepercayaan rakyat AS padanya dan Kamala Harris untuk mengampu masa jabatan berikutnya.
Para pemimpin dunia, termasuk sekutu AS telah memberi selamat kepada Joe Biden yang unggul dalam Pilpres AS. Mereka antara lain Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin, Kanselir Jerman Angela Merkel, hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
(wk/luth)