Sadari Bahaya 'Pandemic Fatigue' yang Berpotensi Gagalkan Pengendalian COVID-19, Apa Itu?
Unsplash/Zohre Nemati
Health

Salah satu ancaman yang bisa mempengaruhi upaya pengendalian wabah COVID-19 adalah pandemic fatigue. Begini penjelasan dan langkah-langkah mengatasinya.

WowKeren - Pandemi COVID-19 nyatanya tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan secara fisik tetapi juga mental. Salah satu yang patut diwaspadai oleh seluruh masyarakat adalah pandemic fatigue alias kelelahan selama pandemi. Apakah itu?

Istilah ini dipopulerkan lewat akun aktivis kesehatan di Instagram, @pandemictalks. Dikutip dari caption-nya, pandemic fatigue tak bisa dipandang remeh karena berpotensi menyebabkan masyarakat lalai mematuhi protokol kesehatan.

"Pandemic Fatigue atau kelelahan akan kondisi pandemi yang tak kunjung usai. Hal ini banyak menjadi alasan lalainya orang mematuhi protokol kesehatan," tulis akun tersebut, Senin (16/11).

Istilah ini mencakup kondisi di masyarakat yang saat ini cenderung sulit mematuhi protokol kesehatan meski jumlah kasus positif COVID-19 terus melonjak. Padahal ketika awal-awal pandemi masyarakat cenderung lebih mudah mematuhi protokol kesehatan.

Namun demikian situasi ini ternyata bukan hal yang aneh. "Menurut teori psikologi, perubahan perilaku yang berhubungan dengan Kesehatan, seperti mematuhi protokol kesehatan, setelah 6 bulan dilakukan, ada kemungkinan 50 persen orang akan kembali ke kebiasaan lama," tulis @pandemictalks, dilansir pada Selasa (17/11).


Padahal hingga kini Indonesia pun dinilai belum melalui gelombang pertama wabah COVID-19. Oleh karena itulah diperlukan langkah-langkah agar bisa mengatasi kondisi ini.

Yang pertama, jangan cherry picking informasi alias hanya menerima informasi yang sesuai dengan pemahaman pribadi. Pahami persepsi kerawanan, alias seberapa rawan seseorang bisa tertular COVID-19 dan persepsi keparahan, alias seberapa parah gejala COVID-19 yang bisa dialami.

"Selalu cek ulang akan apa yang Anda yakini," demikian langkah selanjutnya. Jangan sampai kewaspadaan lengah karena kondisi perlahan-lahan berubah normal.

Kemudian pilihlah 2 lingkup sosial yang bisa dipastikan profil risiko penularan COVID-19-nya untuk bersosialisasi. Hal ini untuk menyeimbangkan physical distancing dan hubungan sosial.

Sedangkan yang terakhir tentu saja harus tetap semangat melakukan protokol kesehatan. "LELAH boleh, tapi kita tetap tidak boleh LENGAH karena kita belum tahu kapan pandemi selesai," pungkas @pandemictalks.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait