Biang Kerok Penyebab Masyarakat Enggan Jalani Tes Corona
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Anggota Tim Pakar Satgas COVID-19 Bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren, sangat mengapresiasi orang-orang yang berani memeriksakan diri terkait kemungkinan infeksi virus corona.

WowKeren - Sejumlah masyarakat Indonesia masih enggan memeriksakan diri setelah kontak erat dengan pasien COVID-19 atau merasakan gejalanya. Menurut Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, salah satu penyebabnya adalah stigma atau pandangan negatif masyarakat terhadap pasien COVID- 19.

"Itu benar, salah satunya," tutur anggota Tim Pakar Satgas COVID-19 Bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren, dilansir Tempo, Selasa (24/11). Menurut Turro, orang yang dinyatakan positif COVID-19 kemungkinan khawatir akan dijauhi atau dikucilkan warga lain.

"Tentang apa yang akan orang katakan," ujar Turro. "Kemudian dia juga takut bagaimana kalau dikucilkan."

Oleh sebab itu, Turro menjelaskan perlunya cara khusus untuk mendorong orang-orang yang bergejala agar berani memeriksakan diri. Dengan demikian, jika mereka memang positif COVID-19, maka tindakan penanganan dapat segera dilakukan.


Turro pun sangat mengapresiasi orang-orang yang berani memeriksakan diri terkait kemungkinan COVID-19. Menurutnya, mereka merupakan pahlawan yang berani menghadapi kemungkinan mendapat stigma dari masyarakat.

"Jadi, Anda itu sebetulnya bisa kita sebut sebagai pahlawan," kata Turro. "Kenapa? Kalau orang enggak dites, bisa jadi yang OTG itu akan menyebarkan penyakit ke banyak orang, tanpa orang itu sendiri sadari."

Selain karena berani menghadapi kemungkinan mendapat stigma masyarakat, orang yang berani dites COVID-19 juga disebut Turro sebagai pahlawan lantaran mereka telah mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Mereka juga membantu pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 lebih dini.

Turro lantas mengimbau masyarakat luas untuk mencari tahu banyak informasi mengenai COVID-19 yang terpercaya dan juga pencegahannya. Dengan demikian, masyarakat bisa bersikap lebih bijaksana kepada warga lain yang mungkin terpapar COVID-19.

Di sisi lain, jumlah kumulatif kasus positif COVID-19 di Indonesia kini telah menembus angka 500 ribu atau setengah juta. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) lantas menganalisis bahwa lonjakan kasus COVID-19 dipicu oleh sejumlah momen dan peristiwa, termasuk adanya kerumunan dan libur panjang 28 Oktober-1 November kemarin.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts