Imbas Pandemi COVID-19 di RI, Total 6 Juta Buruh Telah Dirumahkan
pixabay.com
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Para pekerja yang dirumahkan pada umumnya tidak mendapatkan gaji. Sehingga situasi ini turut berdampak pada perekonomian karena mereka akan menahan belanja

WowKeren - Sejak pandemi COVID-19 menyerang Indonesia Maret lalu, tak sedikit perusahaan yang memutuskan untuk merumahkan karyawan mereka. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan total tenaga kerja yang dirumahkan di masa pandemi sudah tembus 6 juta orang.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani. "Data asosiasi ada 6 juta yang dirumahkan," kata Shinta, Kamis (26/11).

Para pekerja yang dirumahkan itu pada umumnya tidak mendapatkan gaji. Sehingga situasi ini turut berdampak pada perekonomian. Karena penghasilan mereka berkurang atau bahkan dalam skenario terburuk tidak mendapat penghasilan sama sekali maka karyawan yang dirumahkan harus memutar otak untuk bertahan hidup.

Salah satunya dengan menghemat belanja. Yang mana, semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan uang mereka untuk berbelanja maka akan berdampak pada penurunan konsumsi masyarakat secara keseluruhan.


Sementara itu, konsumsi nasional selama ini turut berkontribusi besar pada produk domestik bruto (PDB). Sehingga dengan fenomena seperti itu akan memberikan dampak kepada pertumbuhan ekonomi yang menuju ke arah negatif.

"Pertumbuhan ekonomi juga bisa pulih. Ini pekerjaan rumah yang berat," kata Shinta. Tentu saja, untuk memulihkan ekonomi ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Pemerintah, dikatakan Shinta, harus bisa menciptakan setidaknya 3 juta lapangan kerja. Sehingga dengan begitu daya beli masyarakat bisa kembali pulih. Secara keseluruhan, total pekerja yang terdampak COVID-19 mencapai 29,12 juta orang.

Sementara itu, angka pengangguran tertinggi dicatat oleh Provinsi DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat provinsi ini memiliki tingkat pengangguran terbuka (TPT) mencapai 10,95 persen per Agustus 2020 lalu. Angka ini berada di atas rata-rata nasional yang di level 7,07 persen.

"Walaupun kita menghadapi situasi yang sulit karena ada unemployment rate yang cukup tinggi, lebih dari 10 persen, tapi di sisi lain pasokan kebutuhan pokok pasti hadir," jelas Gubernur Anies Baswedan pada Selasa (24/11). "Sehingga tidak menghasilkan keresahan, dan ini sudah dilakukan sejak April."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts