Kepala pengawas keamanan konsumen Rusia, Rospotrebnadzor Anna Popova, menyarankan agar penerima vaksin COVID-19 Sputnik V buatan Rusia, tak mengonsumsi alkohol selama sekitar dua bulan baik sebelum dan sesudah vaksinasi.
- Nidya Putri
- Kamis, 10 Desember 2020 - 11:16 WIB
WowKeren - Penerima vaksin corona (COVID-19) Sputnik V buatan Rusia disarankan untuk tidak mengonsumsi alkohol selama sekitar dua bulan. Baik sebelum dan sesudah vaksinasi dilakukan.
Instruksi itu disampaikan oleh kepala pengawas keamanan konsumen Rusia, Rospotrebnadzor Anna Popova, pada Selasa (8/12). Instruksi ini sendiri sesuai dengan rekomendasi dari Wakil Perdana Menteri Tatyana Golikova dimana ia mengimbau untuk menghindari alkohol dan imunosupresan (obat penekan sistem imun) selama 42 hari.
"Asupan alkohol perlu dihentikan setidaknya dua pekan sebelum imunisasi," kata Popova dalam wawancara dengan Radio Komsomolskaya Pravda. Dia menambahkan, penerima vaksin harus menjauhkan diri dari alkohol selama "42 hari setelah injeksi pertama" karena kekebalan sedang dibentuk dan seseorang perlu berhati-hati.
"Itu membebani tubuh. Jika kita ingin tetap sehat dan memiliki respons kekebalan yang kuat, jangan minum alkohol," ungkapnya. Rusia sendiri merupakan salah satu konsumen alkohol tertinggi di dunia meskipun jumlahnya terus mengalami penurunan secara signifikan sejak 2003.
Dikutip dari Moscow Times, Popova juga menyarankan agar penerima vaksin tidak merokok baik sebelum dan sesudah vaksinasi karena asap tembakau dapat mengiritasi paru-paru dan mengganggu respons imun.
Menanggapi pernyataan Popova, Kepala Penelitian Gamaleya Alexander Gintsburg mengatakan meskipun seseorang tidak boleh mengonsumsi alkohol sebelum atau sesudah vaksinasi, tapi tidak masalah jika hanya meminum segelas alkohol. "Segelas sampanye tidak akan menyakiti siapa pun," tegasnya.
Pusat penelitian Gamaleya adalah institusi yang mengembangkan vaksin Sputnik V. Meski pun Sputnik V masih menjalani uji klinis pasca-registrasi untuk keamanan, tapi upaya vaksinasi COVID-19 di Rusia telah dimulai di Moskow sejak akhir pekan lalu. Gamaleya mengatakan vaksin berbasis adenovirus tersebut 95 persen efektif melawan virus corona.
Sebelumnya, Rusia telah menerima permintaan untuk memproduksi satu miliar dosis vaksin COVID-19 Sputnik V dari 20 negara. Adapun beberapa negara yang membeli vaksin tersebut adalah Amerika Latin, Timur Tengah dan Asia.
"Kami telah menerima permintaan awal untuk pembelian lebih dari 1 miliar dosis vaksin dari 20 negara bagian," ujar Dmitriyev dalam konferensi persnya dilansir NDTV, Rabu (12/8) lalu. "Kami siap memastikan produksi lebih dari 500 juta dosis vaksin bersama dengan mitra asing kami di lima negara, dan kami berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi kami."
(wk/nidy)