Begini Kata Komnas HAM Usai Panggil Kapolda Metro Jaya dan Dirut Jasa Marga
Nasional

Komnas HAM memanggil Dirut Jasa Marga dan Kapolda Metro Jaya pada Senin (14/12) kemarin, dalam rangka membongkar kasus penembakan yang menewaskan 6 laskar FPI.

WowKeren - Diketahui Komnas HAM ikut melakukan penyelidikan terkait dengan tewasnya 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) pada Senin (7/12) dini hari. Dalam keterangan persnya Minggu (13/12) kemarin, Komnas HAM mengaku sudah mendapat titik terang terkait dengan kasus penembakan tersebut, meski tak mengungkap secara detail seperti apa.

Namun demi memperjelas seluruh situasi yang ada, Komnas HAM merencanakan pula panggilan terhadap "sosok-sosok kunci". Termasuk Direktur Utama Jasa Marga Subakti Syukur dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran pada Senin (14/12) kemarin. Lalu seperti apakah hasilnya?

Dituturkan Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, masing-masing sosok yang dipanggil memiliki misi tersendiri. Subakti dari Jasa Marga memberikan keterangan tambahan terkait rekaman CCTV. Sementara Irjen Fadil menerangkan kronologi kejadian, mulai dari sebelum peristiwa sampai detik-detik meninggalnya keenam laskar itu.

"Ada bukti baru, keterangan tambahannya juga semakin memperjelas peristiwa yang terjadi dan juga soal temuan-temuan lain," kata Beka Ulung, dilansir dari BBC Indonesia, Selasa (15/12). "Artinya, ini melengkapi puzzle-puzzle yang ada sehingga tinggal kami analisa."

Beka Ulung pun tak ragu mengungkap tambahan informasi yang berhasil didapat dari keterangan para sosok kunci itu. Kendati demikian, masih ada beberapa keterangan yang memerlukan pendalaman lebih jauh.


"Pertanyaan mendasar kan begini, apakah kemudian memang terjadi baku tembak atau tidak. Atau kemudian saksi-saksi mendengar tembakan, ini kan membedakan antara mendengar tembakan dan melihat baku tembak kan beda," ungkap Beka Ulung.

"Terkait misalnya bagaimana kondisi fisik mobil, baik mobil petugas maupun dari FPI," imbuhnya. "Yang kedua, soal uji balistik dan juga forensik, ini perlu pendalaman karena kami harus juga melihat secara fisik."

Namun, seperti yang sudah ditegaskan sebelumnya, Komnas HAM akan mendalami seluruh informasi dan bukti dengan sangat berhati-hati agar kasusnya semakin terang-benderang. Mereka pun menargetkan penyelidikan akan usai dalam waktu satu bulan mendatang.

Sebelumnya polisi sudah menggelar rekonstruksi terkait dengan kasus penembakan itu. Dari hasil rekonstruksi terungkap para laskar meninggal di tempat berbeda, dengan 4 di antaranya ditembak dalam jarak dekat.

FPI pun sempat membongkar sejumlah kejanggalan dari hasil rekonstruksi itu. Narasi bahwa rekonstruksi hanya rekayasa semata juga berkembang, namun Komisi Kepolisian Nasional sempat membantah dengan alasan seperti ini.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait