Diklaim IDI Tertinggi di Asia, 500 Lebih Nakes RI Meninggal Akibat COVID-19 Sepanjang 2020
Nasional
COVID-19 di Indonesia

IDI mengklaim kematian tenaga kesehatan akibat COVID-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di lingkup Asia. IDI pun menuntut peningkatan kewaspadaan masyarakat.

WowKeren - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) turut memberikan catatan soal penanganan COVID-19 sepanjang 2020 kemarin. Dan salah satu yang sangat disoroti adalah perihal kematian para tenaga kesehatan akibat infeksi virus Corona yang diklaim tertinggi se-Asia.

Tim Mitigasi IDI mencatat, sejak Maret sampai Desember 2020, sebanyak 504 nakes wafat akibat COVID-19. Jika dirinci, 237 di antaranya adalah dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga laboratorium medik.

"Para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 131 dokter umum (4 guru besar), 101 dokter spesialis (9 guru besar), serta 5 residen. Yang keseluruhannya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI cabang (kota/kabupaten)," terang Ketua Tim Mitigasi IDI, Dr Adib Khumaidi, Sabtu (2/1).

Di antara 34 provinsi Indonesia, Jawa Timur adalah penyumbang terbesar dengan 46 kasus. Selanjutnya DKI Jakarta (37 kasus) dan Jawa Tengah (31 kasus).


Tipe dokter dengan kematian tertinggi adalah dokter umum, diikuti dokter spesialis penyakit dalam (internis), dan dokter spesialis kandungan (obgyn). Data ini diperoleh dari rangkuman beberapa aliansi profesi kesehatan seperti PDGI, PPNI, IBI, PATELKI, dan IAI.

Atas data kematian ini, IDI mengklaim yang terjadi di Indonesia merupakan yang terburuk se-Asia. Puncaknya sendiri terjadi pada Desember 2020 kemarin dengan catatan hingga 52 nakes yang meninggal dunia.

Terkait meninggalnya para pekerja kesehatan ini tidak lepas dari mobilitas warga yang meningkat menjelang akhir tahun. "Salah satu dampak dari akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi belakangan ini seperti berlibur, Pilkada, dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah," jelasnya, dilansir dari Kumparan.

IDI pun mengingatkan bahwa positivity rate COVID-19 di Indonesia pun sangat tinggi, yakni mencapai hampir 30 persen, sehingga perlu sangat diwaspadai. "Situasi akan bisa menjadi semakin tidak terkendali jika masyarakat tidak membantu dengan meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan 3M," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts