Operasi SAR Sriwijaya Air SJ-182 Diperpanjang 3 Hari ke Depan
Twitter/SAR_NASIONAL
Nasional
Sriwijaya Air Hilang Kontak

Sementara itu, Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Rasman mengungkapkan bahwa jumlah penyelam yang dikerahkan untuk membantu operasi SAR Sriwijaya Air bertambah menjadi 310 orang pada Jumat (15/1).

WowKeren - Operasi pencarian korban dan bagian pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang terjatuh di perairan Kepulauan Seribu hingga kini masih berlangsung. Memasuki hari ke-7, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memutuskan untuk memperpanjang masa pencarian.

"Untuk operasi SAR Sriwijaya Air kami memutuskan untuk memperpanjang 3 hari ke depan," ungkap Kepala Basarnas Marsdya (Purn) Bagus Puruhito di JICT, Jakarta Utara, pada Jumat (15/1).

Sementara itu, Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Rasman mengungkapkan bahwa jumlah penyelam yang dikerahkan untuk membantu operasi SAR Sriwijaya Air bertambah menjadi 310 orang pada Jumat hari ini. "Untuk penyelaman hari ini kurang lebih 310 orang, kemarin 260," terang Rasman.

Para penyelam tersebut fokus mencari bagian tubuh korban, serpihan pesawat, hingga Cockpit Voice Recorder (CVR) black box pesawat Sriwijaya Air. Proses pencarian via udara juga diperluas lantaran ada kemungkinan objek telah terbawa arus.


"Rencana operasi, kita pencarian udara agak diperluas," tutur Rasman. "Karena waktu berjalan, ada yang terbawa arus semakin menjauh."

Sebelumnya, Kepala Basarnas telah mengungkapkan kendala yang dihadapi Tim SAR dalam pencarian CVR tersebut. Menurut Bagus, bagian luar CVR telah ditemukan oleh Tim SAR.

"Soal CVR saya sudah komunikasi dengan ketua KNKT maupun panglima armada yang di lokasi," tutur Bagus dalam jumpa pers pada Kamis (14/1) malam. "Informasi yang kami dapatkan baru casingnya, bungkus atau body protector dari CVR yang ketemu."

Meski demikian, beacon atau alat yang digunakan agar CVR terdeteksi sudah terlepas. Oleh sebab itu, Tim SAR kesulitan mencari keberadaan CVR di bawa air, terlebih air laut yang keruh juga membatasi jarak pandang para penyelam yang mencari alat tersebut.

"Permasalahan yang ada seperti kita ketahui bersama, beacon yang bisa membawa kita ke benda itu sudah lepas dari alat itu," terang Bagus. "Sehingga kita gunakan cara yang relatif lebih lama dan air di bawah permukaan cukup keruh."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts