Pfizer Akhirnya Buka Suara Terkait Kematian Puluhan Lansia di Norwegia
Dunia
Vaksin COVID-19

Perusahaan asal Amerika Serikat Pfizer akhirnya buka suara terkait meninggalnya 33 lansia di Norwegia usai mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 miliknya yang tengah ramai dibicarakan.

WowKeren - Meninggalnya 33 lansia di Norwegia usai mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 Pfizer tengah menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Perusahaan asal Amerika Serikat ini, yang bermitra dengan perusahaan Jerman BioNtech dalam pembuatan vaksin Corona, mengaku sudah menerima laporan kematian usai divaksin tersebut dan sedang bekerja sama dengan Norwegian Medicines Agency (NOMA) untuk mengumpulkan informasi yang relevan.

"Otoritas Norwegia memprioritaskan imunisasi warga di panti jompo, kebanyakan sudah sangat tua dengan kondisi medis bawaan dan sebagian sudah berada di tahap akhir penyakitnya," kata Pfizer dikutip dari ABC, Selasa (19/1).

"NOMA memberi konfirmasi bahwa angka insiden sejauh ini tidak mengkhawatirkan dan sesuai dengan ekspektasi," sambungnya. "Semua laporan kematian akan dievaluasi secara menyeluruh oleh NOMA untuk menentukan apakah insiden itu berhubungan dengan vaksin."


Sebagian pakar menyebutkan insiden kematian di Norwegia mungkin telah diperkirakan mengingat penerima vaksin Pfizer sudah sangat berumur dan ada yang penyakitnya sudah parah. "Siapapun yang berada di fasilitas perawatan untuk orang tua biasanya sangat rapuh dan juga punya beberapa penyakit," sebut Dr Rob Grenfell, pakar kesehatan di Australia.

Seperti yang telah diketahui, penyebab kematian puluhan lansia tersebut hingga saat ini masih belum terungkap dan sedang diinvestigasi secara intensif. Dalam keterangan tertulisnya, NOMA menyebut semua kematian tersebut setelah pemberian vaksin Pfizer.

Namun sejauh ini belum diketahui apakah ini akibat vaksinasi, atau kondisi medis bawaan pasien mengingat mereka yang meninggal kondisinya kurang baik. "Reaksi umum terhadap vaksin Pfizer termasuk demam dan mual, yang mungkin menyebabkan hasil yang fatal untuk beberapa pasien yang lemah," kata dokter kepala NOMA, Sigurd Hortemo.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts