Netizen Indonesia Dicap Paling Tak Sopan se-ASEAN, Menkominfo Gercep Lakukan Ini
Instagram/johnnyplate
Nasional

Microsoft lewat survei DCI-nya menempatkan warganet Indonesia sebagai yang terburuk di Asia Tenggara. Menkominfo Johnny G Plate pun tak berdiam diri atas penilaian tersebut.

WowKeren - Belum lama ini warganet Indonesia mendapat gelar mencengangkan dari Microsoft. Raksasa teknologi itu mengungkap lewat laporan "Digital Civility Index (DCI)", bahwa warganet Indonesia merupakan yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara sepanjang 2020.

Indonesia menempati peringkat ke-29 dari 32 negara terkait tingkat kesopanannya dalam memakai internet dan media sosial. Perihal peringkat ini pun sontak menyita perhatian, bukan hanya dari warganet tetapi juga oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate.

Johnny pun bergerak cepat membentuk Komite Etika Berinternet atau Net Ethics Committee (NEC) sebagai jawaban atas survei tersebut. Lantas bagaimana cara kerja NEC?

Dijelaskan Johnny, tugas dari komite ini adalah untuk merumuskan panduan praktis terkait budaya serta etika berinternet dan bermedia sosial. "Landasannya pada asas kejujuran, penghargaan, kebajikan, kesantunan, serta penghormatan terhadap privasi individu lain dan data pribadi individu lain," jelas Johnny di Jakarta.


Dengan panduan praktis tersebut, ungkap Johnny, diharapkan bisa mendorong peningkatan literasi digital. Artinya, kecakapan untuk menggunakan instrumen digital dan kemampuan merespons arus informasi digital dapat ditumbuh-kembangkan secara optimal.

Selain itu, komite juga akan mendorong pelaksanaan panduan praktis terkait budaya serta etika berinternet dan bermedia sosial. Nantinya NEC akan beranggotakan berbagai pemangku kepentingan terkait.

Termasuk di antaranya Kemenkominfo, kementerian/lembaga lain terkait, pegiat literasi digital, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, kelompok kepemudaan, dan lain-lain. "Saat ini, Kementerian Kominfo tengah menyusun kelengkapan komite tersebut untuk dapat diinformasikan kepada masyarakat dalam waktu dekat," pungkas Johnny.

Sebagai informasi, riset DCI oleh Microsoft ini digelar pada April dan Mei 2020 terhadap 16 ribu responden di 32 negara. Sistem penilaiannya menggunakan skala nol sampai 100, dengan semakin tinggi skor maka semakin rendah kesopanan daring di negara tersebut.

Indeks ini diukur dari persepsi warganet terhadap risiko yang mungkin didapatkan. Seperti ujaran kebencian, perundungan siber, pelecehan daring, penyebaran data pribadi, dan ancaman terhadap keberadaban atau kesopanan di ruang siber lainnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts