Abu Vulkanik Sinabung Diperkirakan Capai Aceh, Warga Diimbau Pakai Masker dan Kacamata
Twitter/BNPB_Indonesia
Nasional

Gunung Sinabung kini masih berada di level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ada 13 kali awan panas guguran yang terjadi per pukul 08.20 WIB tadi.

WowKeren - Gunung Sinabung di Sumatera Utara dilaporkan mengalami erupsi pada Selasa (2/3) pagi ini. Adapun tinggi kolom abu Sinabung ini terpantau mencapai lima kilometer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lantas memperkirakan abu erupsi tersebut menyebar hingga mencapai Aceh. "Bila dilihat dari foto satelit, diperkirakan debu vulkanik sudah mulai menyeberang/terpapar ke Provinsi Aceh," terang Kasi Data dan Informasi BMKG Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Zakaria Ahmad, kepada awak media pada Selasa hari ini.

Menurut Zakaria, ada dua daerah yang terpapar debu vulkanik, yakni Aceh Tenggara dan Aceh Selatan. Oleh sebab itu, BMKG mengimbau warga yang berada di daerah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. "Jikapun harus keluar dari rumah, jangan lupa memakai masker, memakai kacamata, menutup tempat makanan-air untuk konsumsi," ujar Zakaria.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ada 13 kali awan panas guguran yang terjadi per pukul 08.20 WIB tadi. Adapun Gunung Sinabung kini masih berada di level III atau Siaga.


"Selama Januari hingga 1 Maret teramati hembusan gas dari kawah puncak berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, tinggi sekitar 50 - 1.000 meter dari puncak," ungkap Kepala PVMBG Andiani. "Guguran, Hembusan, Hybrid, dan Low Frequency selama periode tersebut berjumlah sangat tinggi. Pola kenaikkan jumlah gempa Low Frequency dan Hybrid teramati signifikan pada minggu pertama Februari 2021, seiring dengan mulai terjadinya awan panas guguran."

Menurut analisis PVMBG, rangkaian awan panas guguran dari Gunung Sinabung hari ini merupakan karakter erupsi yang telah terjadi beberapa kali sejak 2013. Meski demikian, Andiani menyatakan tak ada indikasi peningkatan potensi ancaman bahaya.

"Mekanisme kejadian awan panas guguran diakibatkan oleh adanya pembentukan kubah lava di bagian puncak, kemudian diikuti oleh adanya migrasi fluida (batuan padat, cairan, gas) ke permukaan yang mendorong kubah lava. Migrasi fluida ini diindikasikan oleh jumlah gempa-gempa Low Frequency dan Hybrid yang tinggi," papar Andiani. "Pengamatan visual dan kegempaan hingga 2 Maret 2021 pukul 9.00 WIB menunjukkan fluktuasi dalam pola yang masih tinggi, tetapi tidak ada indikasi peningkatan potensi ancaman bahaya."

PVMBG lantas merekomendasikan agar pengunjung atau wisatawan tak beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi. Atau dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung, serta 4 kilometer untuk sektor timur-utara, dalam jarak 5 kilometer untuk sektor selatan-timur Gunung Sinabung.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts