Lonjakan besar korban jiwa akibat tindak represif junta militer Myanmar tercatat pada Minggu (14/3) kemarin yang digambarkan serupa medan perang dengan desingan peluru serta asap membumbung tinggi.
- Elvariza Opita
- Senin, 15 Maret 2021 - 13:49 WIB
WowKeren - Gejolak berdarah tengah terjadi di Myanmar setelah junta militer mengkudeta kepemimpinan Aung San Suu Kyi dan kubu demokrasi. Kudeta ini pun memicu protes besar-besaran dari masyarakat sipil, yang sayangnya dibalas dengan tindak represif militer.
Salah satu buktinya adalah kejadian pada Minggu (14/3) kemarin, ketika setidaknya 39 orang meninggal dalam upaya protes di distrik industrial. Mengutip The Guardian, sudah lebih dari 80 orang yang meninggal akibat serangan junta militer. Lonjakan besar kematian akibat tindak represif militer juga tercatat, dengan yang terparah pada Minggu kemarin.
Kedutaan besar Tiongkok menyatakan banyak pekerja dari negaranya yang terjebak serta terluka akibat upaya represif junta militer kepada warga sipil. Tak hanya itu, sepanjang hari Minggu kemarin, suara tembakan tak berhenti terdengar, memaksa warga yang tak turun ke jalan untuk terus bersembunyi. Asap juga terlihat membumbung tinggi di berbagai lokasi ditambah dengan truk-truk militer yang terlihat menyisir perumahan warga.
Serangan yang semakin "gila" ini, disebut-sebut akibat seruan revolusi oleh pemimpin kubu demokrasi Myanmar saat ini, Mahn Win Khaing Than. Politikus veteran Myanmar yang sebelumnya menjabat sebagai Juru Bicara pemerintahan Suu Kyi itu menilai negaranya tengah berada dalam fase tergelap.
"Ini adalah momen tergelap negara kita, momen saat fajar kian dekat," ujar Mahn Win Khaing Than dalam rekaman video. Ini juga pertama kalinya Mahn Win Khaing Than muncul di hadapan publik pasca rekan-rekannya diculik junta militer, di mana sang politikus menyampaikan pesannya dari tempat persembunyiannya.
Mahn Win Khaing Than pun menyerukan ajakan untuk terus bertahan dalam revolusi Myanmar. "Ini waktunya bagi kita, masyarakat, untuk bertahan meski dikepung kegelapan," tegasnya, dilansir dari BBC, Senin (15/3).
"Untuk membentuk demokrasi federal, yang benar-benar diinginkan oleh kita semua, yang telah menderita dari berbagai jenis penindasan dari kediktatoran selama beberapa dekade, revolusi ini adalah kesempatan bagi kita untuk menyatukan upaya kita," imbuhnya. "Terlepas dari perbedaan kita di masa lalu, inilah saatnya kita harus bergandengan tangan untuk mengakhiri kediktatoran selamanya."
Seruan ini pun ditanggapi positif oleh masyarakat Myanmar yang tetap berjuang memprotes kudeta oleh junta militer. "Saya sudah melihat banyak pahlawan berguguran. Tapi saya tetap akan berjuang sampai akhir," kata Ma Khine Lay (21) bertekad meski melawan rasa takut saat membangun barikade dari batu bata dan bambu demi melawan terjangan pasukan militer.
(wk/elva)