Sikap rasis saat ini memang masih ada di sejumlah negara yang ada di dunia. Perilaku rasis pun bisa terjadi kepada siapa saja, seperti yang menimpa salah satu murid di Amerika Serikat.
- Wahyu
- Jumat, 26 Maret 2021 - 14:25 WIB
WowKeren - Salah seorang kepala sekolah Katolik di Amerika Serikat (AS) mengundurkan diri setelah kontroversi yang dilakukan. Ia disebut meminta siswa berkulit hitam untuk meminta maaf sambil berlutut.
Mengetahui putranya diperlakukan tidak baik, Trisha Paul selaku orangtua siswa tersebut melaporkannya ke pihak sekolah. Setelah mendapat laporan, pihak sekolah akhirnya meminta kepala sekolah tersebut untuk mengundurkan diri.
Pada Rabu (24/3), pihak sekolah ST. Martin de Porres mengeluarkan pernyataan akan terus meninjau dan menyelidiki kasus tersebut. Pihaknya juga akan memastikan kejadian serupa tidak akan terulang kembali.
"Kepemimpinan St. Martin de Porres Marianist akan terus menyelidiki insiden tersebut untuk memastikan masalah itu tidak terulang lagi dalam bentuk apa pun," bunyi pernyataan St. Martin de Porres Marianist dikutip dari CNN US. "Penting untuk kami meyakinkan siswa, orangtua, serta fakultas bahwa insiden ini tidak mencerminkan nilai yang kami ajarkan untuk menghormati antar individu."
Saat diwawancarai CNN US pada hari Selasa (23/3), Paul menceritakan insiden tersebut. Awal mulanya, ia merasa ada yang janggal dari sikap anaknya setiap pulang sekolah sekitar satu bulan lalu. Anaknya terlihat murung dan sedih.
Melihat hal tersebut, Paul lantas bertanya kepada anaknya. Akhirnya sang anak menceritakan yang terjadi dengannya di sekolah.
Sang anak mengaku diminta meminta maaf dengan berlutut. Ia diminta meminta maaf setelah kedapatan mengerjakan tugas kelas literatur di jam yang seharusnya digunakan untuk membaca.
Sang guru kemudian mengambil tugas anak Paul dan merobeknya. Setelah merobek tugas tersebut, sang guru membawanya ke ruang kepala sekolah. Saat itu lah sang kepala sekolah menyuruh sang anak untuk berlutut sembari meminta maaf. "Saya merasa sangat emosional mendengar hal itu," tutur Paul.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut, pihak sekolah memanggil para wali murid untuk rapat. Paul lantas memanfaatkan momen tersebut. Ia menanyakan terkait peristiwa yang menimpa anaknya kepada kepala sekolah tersebut. "Saya bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kemudian dia mulai bercerita tentang satu keluarga Afrika yang pernah menjadi muridnya di sekolah itu beberapa tahun lalu," terangnya.
Kepala sekolah tersebut bercerita jika orangtua dari anak tersebut pernah menyuruhnya meminta maaf dengan "cara Nigeria" yaitu dengan berlutut. Pernyataan dari kepala sekolah tersebut sontak membuat Paul kaget. "Saya kehabisan kata-kata, saya tidak paham kaitannya, saya sangat sedih dan kecewa," tandas Paul.
(wk/wahy)