Kemenkes mengingatkan agar masyarakat tidak memilih-milih jenis vaksin COVID-19 yang akan diberikan, baik itu merek Sinovac, Biofarma, AstraZeneca, Novavax, Pfizer, atau jenis lain.
- Elvariza Opita
- Rabu, 31 Maret 2021 - 12:18 WIB
WowKeren - Program vaksinasi COVID-19 terus dikebut oleh pemerintah dengan harapan mempercepat terbentuknya herd immunity. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah pun mendatangkan beragam merek vaksin COVID-19 yang belakangan dikhawatirkan memicu sifat "pilih-pilih" dari masyarakat.
Karena itulah, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, mewanti-wanti masyarakat agar tidak membeda-bedakan jenis vaksin yang diberikan. Siti Nadia pun mendorong masyarakat untuk percaya sepenuhnya kepada pemerintah selaku penyedia vaksin COVID-19 yang sudah dipastikan keamanan serta khasiatnya.
"Jadi tidak usah ragu-ragu untuk divaksinasi, tidak usah memilih-milih vaksin. Pemerintah akan memprioritaskan penggunaan jenis vaksin yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh, berdasarkan tentunya rekomendasi para ahli," tegas Siti Nadia dalam konferensi pers, Selasa (30/3).
Perihal pengadaan dengan berbagai merek itu, dijelaskan Siti Nadia adalah karena tidak ada satu pun produsen vaksin di dunia yang mampu memenuhi permintaan negara besar seperti Indonesia. Menurutnya Indonesia beruntung karena sudah menjalin kerja sama dengan 4 produsen vaksin, yakni Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer.
Vaksin dari keempat produsen itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan program vaksinasi nasional yang diberikan secara gratis. Sementara ada 2 produsen lain yakni Sinopharm dan Moderna yang akan menyediakan kebutuhan program Vaksinasi Gotong Royong yang melibatkan pihak swasta.
Lebih lanjut, Siti Nadia juga mengingatkan bahwa saat ini vaksin menjadi rebutan banyak negara yang belum mampu memproduksi secara mandiri. Karena itulah, ia meminta masyarakat yang seusai kriteria sasaran vaksin untuk segera mendatangi sentra vaksinasi atau fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ditentukan.
"Saya mendorong seluruh masyarakat, mari kita sukseskan vaksinasi COVID-19," pungkas Siti Nadia, dikutip pada Rabu (31/3). "Karena ini ditujukan untuk kita semua."
Disampaikan pada kesempatan berbeda, Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) juga mendorong agar masyarakat mengikuti program vaksinasi COVID-19. Sebab sejauh ini KIPI serius yang dilaporkan hanya kurang dari 1 persen. "Reaksi serius tentunya ada. Kurang dari 1 persen juga. Yang terberat tentunya syok anafilaktik. Namun karena memang tenaga vaksinator itu telah kami latih, sehingga semua dapat ditangani dengan baik. Artinya sembuh, dan dapat melakukan keaktifan seperti sedia kala," ujar Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari.
(wk/elva)