Sejumlah nasabah Bank Riau-Kepri mendapati saldo tabungannya berkurang begitu saja. Polisi pun turun tangan dan meringkus 2 tersangka yang merupakan teller bank.
- Elvariza Opita
- Kamis, 01 April 2021 - 11:22 WIB
WowKeren - Modus kejahatan perbankan kini kian beragam di samping dengan scamming mencuri data nasabah. Bahkan tak jarang malah pegawai bank itu sendiri yang melakukan kejahatan dan mencuri uang milik sang nasabah.
Hal ini seperti dialami oleh Rosmaniar yang mengetahui bahwa tabungan hari tuanya di Bank Riau-Kepri (BRK) Cabang Rokan Hulu (Rohul) raib. Tak main-main, dari saldo senilai Rp1,2 miliar, uang yang tersisa di rekeningnya hanya Rp9,7 juta.
"Saldo awal rekening atas nama korban Rosmaniar sejak 13 Januari 2015, itu sebesar Rp1,2 miliar lebih. Tetapi setelah dicek tinggal Rp9,7 juta," papar Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, Selasa (30/3).
Bukan cuma Rosmaniar, uang milik sang anak Hotnasari Nasution, juga kehilangan uang senilai Rp133 juta. Lalu ada nasabah lain yang juga melapor atas nama Hasimah yang kehilangan hampir Rp42 juta dari tabungannya.
Penyelidikan polisi pun membuahkan hasil dengan ditangkapnya dua oknum teller bank yang sudah menggasak uang para nasabahnya itu. Adalah AS (42) dan NH (37) yang ternyata bekerja sama untuk membobol rekening nasabah.
Lantas bagaimana modus dari aksi kejahatan mereka? Rupanya AS dan NH bekerja sama untuk memalsukan tanda tangan di slip transaksi.
"Kedua pelaku merupakan teller sewaktu bekerja sebagai pegawai di salah satu bank pemerintah. NH selaku teller dan AS head (kepala) teller," terang Sunarto dalam konferensi persnya, dilansir dari Kompas, Kamis (1/4).
Atas perbuatannya, NH dan AS kini harus berurusan dengan aparat hukum Indonesia dan dijerat dengan pasal berlapis. Ancaman hukumannya mulai dari 3-5 tahun dengan denda maksimal Rp100 juta.
Lalu bagaimana pula nasib uang para nasabah yang menjadi korban? "Sementara uang tiga orang nasabah sudah diganti oleh pihak bank," ujar Sunarto. Sedangkan uang yang dicuri oleh oknum teller tak bertanggung jawab itu dipakai untuk kepentingan pribadi.
Kejahatan perbankan memang harus sangat diwaspadai terutama di era digital seperti ini. Karena itulah Bank Indonesia juga menginstruksikan seluruh bank untuk mengganti kartu ATM nasabahnya dengan berbasis chip.
(wk/elva)