Setelah pelaku penyerangan Mabes Polri terungkap masih berusia 25 tahun, perkataan Mahfud MD soal teroris milenial kembali disorot. Berikut pernyataan lengkapnya.
- Eva Lestari
- Kamis, 01 April 2021 - 14:44 WIB
WowKeren - Komentar Mahfud MD dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) soal teroris milenial kembali disorot setelah Indonesia dibayangi dengan aksi teror selama beberapa hari terakhir. Diketahui bersama, pada Minggu (28/3) Gereja Katedral Makassar diserang oleh dua bomber yang kemudian diketahui sebagai suami istri.
Tiga hari berselang, aksi teror menghantui Mabes Polri setelah seorang perempuan melancarkan tembakan kepada petugas pada Rabu (31/3) kemarin. Pelaku penyerangan Mabes Polri berhasil diidentifikasi sebagai ZA, perempuan kelahiran 14 September 1995 asal Ciracas, Jakarta Timur. Karena itulah ZA masih berusia 25 tahun, usia yang masih tergolong dalam kelompok milenial.
Maka dari itu, keterlibatan anak muda dan generasi milenial dalam rangkaian aksi teror menjadi isu serius yang tak bisa diremehkan. Hal ini sebelumnya pernah disinggung oleh Menko Polhukam Mahfud MD pada Desember 2020.
Mahfud mengatakan bahwa ancaman radikalisme di kalangan anak muda menjadi semakin nyata. Berdasarkan laporan yang ia terima, sejumlah anak muda telah mendapat pelatihan intens untuk menjalankan aksi teror pada orang-orang penting atau very-very important person (VVIP).
"Saya dapat info ada sekelompok anak-anak muda yang dilatih di suatu tempat khusus untuk meneror VVIP," kata Mahfud saat memberi sambutan dalam acara "Penyerahan Hasil Evaluasi dan Rekomendasi Kebijakan Kementerian/Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa" tahun lalu.
"Saya dapat foto latihannya juga. Nah yang seperti ini, itu radikalisme yang mengarah, menghantam ideologi. Itu satu, intoleran. Dua yang lebih parah dari itu adalah teror. Teror itu karena paham jihadis, paham jihad yang salah," imbuhnya.
Karena itulah Mahfud berharap pemerintah dapat menguatkan persatuan Indonesia untuk meredam penyebaran paham radikalisme. "Tugas kita adalah menjalankan pemerintah, negara yang bersumbu pada kesatuan bangsa kita. Semua energi kita harus kita kerahkan untuk jaga keutuhan dan kebersamaan, kebersatuan kita," imbuhnya.
Senada dengan pernyataan Mahfud, Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar juga pernah menjelaskan bahwa anak-anak Indonesia berpotensi menjadi bomber penyebar teror."Kita tidak ingin ada lagi orang yang berangkat ke Irak dan Suriah, dipenjara karena urusan terorisme, maupun anak-anak Indonesia yang jadi pelaku bom bunuh diri," kata Boy dikutip dari Antara.
Untuk itu, Boy mengharapkan kesadaran masyarakat terhadap proses radikalisme yang semakin berkembang luas. "Jangan sampai ada orang melakukan proses radikalisasi, tetapi masyarakat tidak waspada. Jadi, ada kesadaran publik," pungkasnya.
(wk/eval)