Mendikbudristek Nadiem Makarim Buka Sekolah Karena Khawatirkan Kesehatan Mental Murid
Instagram/nadiemmakarim
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Menurut Nadiem, selama ini banyak murid yang mengalami stres lantaran harus berjalan secara daring karena kondisi belajar mengajar yang tidak dinamis, tak dapat bertemu teman, hingga kebosanan.

WowKeren - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) kini sudah tidak berjalan optimal. Menurutnya, PJJ selama ini juga menjadi beban mental bagi para murid. Oleh sebab itu, Nadiem bersikukuh kembali membuka sekolah meski pandemi virus corona (COVID-19) belum selesai.

"Sudah jelas bahwa sudah terlalu lama saat ini proses PJJ terjadi dan kita tidak bisa menunggu lagi dan mengorbankan pembelajaran dan kesehatan mental murid-murid kita," tegas Nadiem pada Rabu (5/5).

Menurut Nadiem, selama ini banyak murid yang mengalami stres lantaran harus berjalan secara daring. Hal ini dipicu oleh kondisi belajar mengajar yang tidak dinamis, tak dapat bertemu teman, hingga kebosanan karena harus terus berada di dalam rumah.

Para siswa dikhawatirkan tertinggal dalam pembelajaran. Hal tersebut dinilai Nadiem dapat membahayakan perkembangan generasi masa depan.

"Pemerintah mengambil sikap bahwa bagi, Alhamdulillah, guru-guru sudah jadi prioritas vaksinasi," papar Nadiem. "Saat guru-guru tersebut sudah melalui vaksinasi, sekolah diwajibkan membuka opsi tatap muka."


Nadiem mengungkapkan bahwa kini sudah ada 25 persen sekolah yang kembali menerapkan pembelajaran tatap muka. "Jadinya, pada saat ini mungkin enggak banyak orang tahu, 25 persen dari sekolah kita sudah melaksanakan tatap muka," kata Nadiem.

Namun Nadiem menegaskan bahwa protokol kesehatan diterapkan dengan ketat di sekolah tatap muka tersebut. Kapasitas kelas juga dibatasi maksimal 50 persen. Selain itu, guru dan siswa juga diwajibkan untuk terus mengenakan masker selama jam pembelajaran.

"Tatap muka terbatas, protokol kesehatan terhadap pembelajaran tatap muka itu sangat ketat dengan adanya kapasitas cuma 50 persen, dan juga tidak ada aktivitas-aktivitas di luar pembelajaran sendiri," ujarnya. "Masuk sekolah tidak ada ekskul, masuk langsung pulang. Dan setengah dari kapasitas kelasnya tidak bisa ke ruangan di saat yang sama. Tentunya masker wajib, fasilitas sanitasi juga wajib."

Adapun pembukaan sekolah ini disebutnya bukan paksaan. Pemerintah tidak akan memaksa orangtua untuk mengirim anak mereka ke sekolah tatap muka.

"Keputusan apakah anak itu pergi atau melanjutkan PJJ ada di orang tua," pungkas Nadiem. "Tetapi sekolah diwajibkan melaksanakan tatap muka terbatas, memberikan opsi tatap muka terbatas kepada semua muridnya."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts