Gunung Nyiragongo terakhir kali erupsi pada tahun 2002 silam. Tragedi itu menewaskan sedikitnya 250 orang dan menyebabkan 120.000 kehilangan tempat tinggal.
- Zodiak Yanuarita
- Minggu, 23 Mei 2021 - 18:56 WIB
WowKeren - Gunung berapi aktif Nyiragongo yang terletak di Kongo meletus pada Sabtu (22/5) waktu setempat. Letusan gunung yang terletak 10 kilometer dari Kota Goma ini membuat langit menjadi merah membara di malam hari.
Akibat peristiwa ini, ribuan penduduk mengungsi. Ketika langit menjadi merah dan sungai lava mengalir dari gunung, muncul kekhawatiran jika tragedi mematikan di masa lalu akan terulang kembali. Evakuasi massal pun diluncurkan di Kota Goma yang berpenduduk sekitar 2 juta orang.
Gunung Nyiragongo terakhir kali erupsi pada tahun 2002 silam. Tragedi itu menewaskan sedikitnya 250 orang dan menyebabkan 120.000 kehilangan tempat tinggal. Terkait letusan terakhir, menurut BBC News masih belum ada laporan mengenai berapa banyak jumlah korban jiwa maupun kerusakan yang ditimbulkan.
Pada Minggu pagi, Menteri Komunikasi Patrick Muyay mengatakan intensitas aliran lahar telah melambat dan penilaian situasi kemanusiaan sedang berlangsung. Sementara itu, wartawan BBC Emery Makumeno mengatakan volume lava yang lebih besar mengarah ke hutan, mengalir menjauh dari kota.
Seorang warga bernama Zacharie Paluku kepada Associated Press menggambarkan ketakutan orang-orang yang berlarian ketika gunung itu meletus. "Kami benar-benar tidak tahu harus berbuat apa," katanya.
Penduduk setempat mengeluhkan kurangnya informasi dari pihak berwenang mengenai potensi bencana ini. Bahkan orang-orang pun berusaha menyelamatkan diri dari letusan sebelum ada pengumuman dari pemerintah yang datang baru beberapa jam setelah letusan terjadi.
Banyak penduduk menyeberangi perbatasan Rwanda di dekatnya, sementara yang lain pergi ke tempat yang lebih tinggi di sebelah barat kota. Otoritas Rwanda mengatakan sekitar 3.000 orang secara resmi telah menyeberang dari Goma.
"Saya keluar dan melihat langit merah. Saya sangat khawatir, sangat khawatir," ujar salah seorang warga Goma, Richard Bahati, yang tengah berada di rumahnya saat mendengar teriakan penduduk. "Saya mengalami masalah dengan gunung berapi ini pada tahun 2002. Gunung berapi tersebut menghancurkan semua rumah dan harta benda kami."
(wk/zodi)