21 Pelari Ultra Marathon Tewas di Tiongkok Akibat Cuaca Dingin Picu Kemarahan Publik
pixabay.com/fietzfotos
Dunia

Sekitar tengah hari bagian pegunungan yang merupakan rute dari perlombaan dilanda hujan es. Kondisi diperburuk dengan angin kencang hingga menyebabkan suhu anjlok.

WowKeren - Sedikitnya 21 atlet dilaporkan tewas ketika cuaca sangat dingin melanda selama maraton ultra digelar di provinsi Gansu yang terjal di barat laut Tiongkok. Lomba lari sejauh 100 kilometer tersebut dimulai pada hari Sabtu (22/5) dari wilayah di sebuah tikungan di Sungai Kuning.

Daerah ini memang terkenal dengan tebingnya yang terjal dan juga bebatuan yang tinggi. Para pelari akan melintasi ngarai dan perbukitan di dataran tinggi gersang di ketinggian lebih dari 1.000 meter (3.300 kaki).

Perlombaan dimulai pukul 9 pagi waktu setempat dengan pelari mengenakan kaos oblong dan celana pendek di bawah langit mendung. Sekitar tengah hari pada hari Sabtu, bagian pegunungan dari perlombaan dilanda hujan es. Selain itu, kondisi juga diperburuk dengan angin kencang hingga menyebabkan suhu menjadi anjlok.

"Hujan semakin deras dan deras," kata Mao Shuzhi, pejabat dari Baiyin yang saat itu berada sekitar 24 km menuju perlombaan pada Minggu (23/5) kepada Reuters.


"Awalnya saya agak menyesal, mengira itu mungkin hanya hujan yang lewat," ujarnya menambahkan. "Tetapi ketika saya melihat angin kencang dan hujan kemudian melalui jendela kamar hotel saya, saya merasa sangat beruntung karena saya membuat keputusan."

Upaya penyelamatan besar-besaran dimulai, dengan lebih dari 1.200 penyelamat dikirim, dibantu oleh drone, detektor radar, dan peralatan pembongkaran, menurut media pemerintah. Upaya penyelamatan terhalang oleh insiden tanah longsor menyusul cuaca buruk tersebut.

Sebanyak 172 orang mengikuti lomba tersebut. Hingga Minggu, 151 peserta telah dipastikan aman. Media pemerintah melaporkan seorang pelari terakhir yang hilang ditemukan tewas pada pukul 09.30 pada hari Minggu, sehingga jumlah korban tewas menjadi 21.

Insiden ini memicu kemarahan publik di media sosial Tiongkok, dengan kemarahan ditujukan pada pemerintah Baiyin atas kurangnya perencanaan darurat. Pada jumpa pers, pejabat Baiyin membungkuk dan meminta maaf, mengatakan bahwa mereka sedih dengan kematian tragis para pelari dan bahwa mereka harus disalahkan.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait