Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan wabah jamur hitam yang kini menghantui pasien sembuh COVID-19 di India belum terdeteksi di Indonesia. Begini penjelasannya.
- Elvariza Opita
- Rabu, 02 Juni 2021 - 13:44 WIB
WowKeren - Pakar Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, membuka peluang berkembangnya wabah jamur hitam di Indonesia. Wabah ini sendiri sekarang sedang menjadi momok bagi masyarakat India di tengah tsunami COVID-19 yang terjadi.
Namun jangan terlalu khawatir. Meski tetap harus waspada, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan infeksi jamur ini belum terdeteksi di Tanah Air.
"Itu adanya di India. Tapi di kita (Indonesia) belum ya," kata Budi Gunadi usai meresmikan Sentra Vaksinasi Traveloka di Tangerang Selatan, Rabu (2/6) pagi.
Alih-alih wabah jamur hitam yang disebut-sebut turut bisa berkembang di Indonesia, pakar-pakar kesehatan masih menaruh perhatian lebih terhadap perkembangan pandemi COVID-19. Apalagi karena pandemi ini bukan hanya menjadi masalah bagi Indonesia tetapi juga banyak negara lain termasuk Malaysia yang sampai menetapkan lockdown penuh.
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Agus Dwi Susanto bahkan menyoroti kenaikan signifikan kasus COVID-19 di beberapa negara. "Kabar terbaru, beberapa negara seperti di India dan Malaysia terjadi pelonjakan kasus yang sangat signifikan," terang Agus.
Agus pun mengingatkan bahwa sistem kesehatan India juga dibuat kolaps oleh wabah jamur hitam. Pasalnya infeksi ini begitu mematikan dan muncul pada pasien yang punya riwayat terjangkit infeksi virus Corona.
"Pasien yang terinfeksi jamur hitam menyebabkan perubahan warna pada mata dan hidung," jelas Agus. "Penglihatan kabur, nyeri dada, dan kesulitan bernapas."
Karena itulah, meski sejauh ini belum ditemukan di Indonesia, ada baiknya setiap masyarakat tetap mengantisipasi perkembangan wabah jamur ini. Apalagi karena pengobatan pasien COVID-19 biasanya menggunakan obat steroid yang bisa memicu infeksi jamur hitam.
"Penggunaan steroid jangka panjang bisa menurunkan sistem imun," tutur Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan, Erlina Burhan. "Kalau menyerang pernapasan, tentu bisa sesak bahkan lumayan hebat kalau disertai COVID-19 yang diderita pasien."
(wk/elva)