Puncak Alpen Diselimuti 'Salju Darah', Ternyata Berbahaya untuk Indonesia?
PxHere
Dunia

Puncak Pegunungan Alpen yang membentang di Eropa tengah diselimuti salju yang warnanya serupa darah. Namun fenomena cantik ini rupanya juga berbahaya bagi Indonesia, kenapa?

WowKeren - Alpen merupakan salah satu pegunungan paling tinggi dan besar yang membentang di setidaknya delapan negara di Eropa. Namun baru-baru ini sebuah fenomena alam yang sejatinya memikat mata tengah mencuri perhatian, yakni berupa "salju darah", atau dalam beberapa literatur disebut sebagai "gletser darah".

Melansir Live Science, salah satu puncak Pegunungan Alpen di Prancis, yang normalnya diselimuti salju putih kini terlihat memerah bak berdarah. Meski warnanya cantik, namun peneliti mewanti-wanti fenomena ini berbahaya, bahkan untuk mereka yang tinggal jauh dari daerah Alpen dan lautan. Ada apa?

Peneliti yang menjadi bagian dari ekspedisi AlpAlga Project itu menuturkan warna merah yang timbul merupakan efek dari bertumbuh pesatnya mikroalga. Mikroalga sendiri memang awam dijumpai di sejumlah lokasi ekstrem, termasuk salju, dan merupakan bagian dari respons perubahan iklim serta polusi lingkungan.

Eric Maréchal sebagai Koordinator Konsorsium AlpAlga menjelaskan bahwa mikroalga yang dijumpai di puncak Alpen sebenarnya adalah mikroalga hijau seperti umumnya. Makhluk hidup berukuran renik ini sejatinya mengandung klorofil, mengingat perannya yang serupa tumbuhan untuk berfotosintesis, namun juga mengandung pigmen karotenoid yang berwarna oranye-kemerahan.

Karotenoid berfungsi sebagai antioksidan dan melindungi mikroalga dari paparan sinar yang intens serta radiasi ultraviolet di dataran tinggi. Karena pertumbuhan mikroalga mengandung karotenoid inilah yang kemudian memicu puncak Alpen menjadi sewarna darah.


Maréchal menuturkan, gletser darah semacam ini terakhir ia jumpai pada musim semi 2019 lalu. "Sejauh mata memandang, warnanya merah. Kemana saja kami berjalan, semua permukaan berwarna merah, sangat mengagumkan," tuturnya, dikutip pada Rabu (9/6).

Namun fenomena cantik ini rupanya juga pertanda bahaya. Selain karena bertumbuh subur di tengah tingginya polusi lingkungan serta perubahan iklim, "ledakan" mikroalga merah ini bisa memberi efek bola salju bagi ekosistem di sekitarnya.

Jurnal Nature menuliskan, salju darah ini lebih mudah meleleh karena bersifat tidak memantulkan cahaya matahari sebaik salju putih. Bila terus terjadi, maka salju tentu saja akan lebih mudah meleleh dan akhirnya menaikkan ketinggian air laut.

Efek inilah yang wajib diwaspadai meskipun tinggal jauh dari Pegunungan Alpen, termasuk Indonesia. Sebab kenaikan permukaan air laut tentu bisa berdampak ke banyak hal, termasuk pengurangan wilayah daratan karena makin terendam oleh air laut.

World Wildlife Fund menuturkan sejumlah dampak lain yang timbul, seperti peningkatan gelombang badai pantai. Lalu kenaikan permukaan air laut tentu saja menyebabkan banyak makhluk hidup terancam kehilangan tempat tinggalnya, termasuk manusia.

Naiknya permukaan air laut bisa dengan cepat dialirkan ke sungai dan danau, sehingga banjir ekstrem bisa dengan mudah terjadi. Peningkatan volume air laut ini juga berbahaya bagi keragaman lautan Indonesia, seperti ikan dan terumbu karang yang perlahan akan menghilang karena kesulitan untuk hidup maupun berkembang biak.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts