Neraca Perdagangan RI 2021 Surplus USD10,17 Miliar, Tanda Perekonomian Kembali Pulih?
Pixabay/Monica Volpin
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Kepala BPS Suhariyanto mengumumkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2021 mengalami surplus sampai USD10,17 miliar. Berikut penjelasan BPS selengkapnya.

WowKeren - Badan Pusat Statistik melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2021. Tak main-main, surplus yang diakibatkan dari lebih besarnya nilai ekspor dibandingkan impor ini mencapai angka USD2,36 miliar, bahkan jauh lebih tinggi daripada bulan sebelumnya yang di kisaran USD2,19 miliar.

Dengan demikian, total surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari sampai Mei 2021 mencapai USD10,17 miliar. "Neraca dagang Indonesia surplus USD2,36 miliar, tertinggi sepanjang 2021," terang Kepala BPS, Suhariyanto, dalam konferensi pers pada Selasa (15/6).

Meski luar biasa, Suhariyanto juga menggarisbawahi kinerja ekspor impor yang menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Namun Suhariyanto pun menekankan bahwa situasi ini awam terjadi seiring dengan berakhirnya momentum Ramadan dan Idul Fitri.

Diterangkan Suhariyanto, ekspor bulan Mei 2021 tercatat sebanyak USD16,6 miliar, berkurang 10,25 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun angka ini pun 59,76 persen lebih banyak secara year on year (yoy) alias jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.


"Kalau kita lihat secara historisnya, nominal ekspor dan impor memang selalu menurun setelah Ramadan dan Lebaran karena bulan sebelumnya naik drastis," ujar Suhariyanto. Sebab pola serupa pun tampak pada nilai impor Indonesia, di mana angkanya berkurang 12,16 persen menjadi USD14,23 miliar namun secara tahunan masih tumbuh 66,68 persen.

Dijelaskan lebih detail oleh Suhariyanto, kenaikan ekspor Indonesia terutama terjadi untuk sektor bahan bakar mineral, baik dari sisi volume maupun harga. "Kenaikan ekspor terutama untuk pengiriman ke Tiongkok, India, dan Filipina," kata Suhariyanto.

Sedangkan untuk sektor impor, yang paling terdampak adalah impor barang modal turun paling dalam sampai 14,09 persen. Sehingga dengan demikian terjadi surplus, di mana secara kumulatif angkanya mencapai USD10,17 miliar, jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (USD4,18 miliar).

Lantas dengan semua capaian ini, apakah menjadi pertanda perekonomian Indonesia mulai kembali pulih? Belum ada kepastian soal itu karena seperti disampaikan Presiden Joko Widodo berkali-kali, ekonomi Indonesia akan pulih ketika wabah COVID-19 pun berhasil dikendalikan.

Sedangkan saat ini Indonesia pun dihadapkan dengan lonjakan kasus COVID-19 yang membuat beberapa pihak waswas ekonomi Tanah Air akan kembali kolaps. Lonjakan kasus ini pun tampak dari antrean pasien positif COVID-19 di RSD Wisma Atlet yang mengular hingga lesehan "membanjiri" IGD.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts