Alih-Alih Berkurang, Polusi Ozon di Antartika Justru Terus Naik Selama 25 Tahun Terakhir
Unsplash /Cassie Matias
Dunia

Analisa selama 25 tahun menunjukkan, data yang dikumpulkan dari delapan lokasi yang tersebar di Antartika, menunjukkan tingkat ozon di permukaan tanah terus meningkat.

WowKeren - Isu mengenai polusi ozon tampaknya masih menjadi permasalahan hingga kini. Sebuah analisa data terbaru mengenai atmosfer menunjukkan polusi ozon di Antartika terus mengalami peningkatan selama 25 tahun terakhir.

Para ilmuwan sebelumnya telah mensurvei tingkat ozon troposfer di belahan bumi selatan. Namun untuk studi terbaru kali ini yang diterbitkan pada hari Rabu (16/6) di jurnal Environmental Science and Technology para peneliti ingin fokus di Antartika.

Menurut mereka, dengan memfokuskan studi pada lingkup yang lebih kecil bisa lebih mengekspos sinyal-sinyal perubahan global. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh ilmuwan terkait studi tersebut Jayanarayanan Kuttippurath.

"Studi di daerah terpencil seperti Antartika dapat mengekspos sinyal pertama dari perubahan global, karena kondisi lingkungan yang ekstrem di sana," katanya kepada UPI. "Jadi, penting bagi kita untuk memantau perubahan di tempat-tempat seperti Antartika."


Sejak para ilmuwan menemukan lubang di lapisan ozon di atas Antartika, benua ini telah menjadi situs penting untuk pengamatan atmosfer. Kuttippurath mengatakan studi dilakukan tak hanya di lapisan stratosfer tetapi juga troposfer.

"Kami telah mengamati dengan cermat lingkungan Antartika sejak saat itu, tidak hanya stratosfer tetapi juga troposfer," ujarnya. "Untuk memantau perubahan dan menilai dampak perubahan konsentrasi ozon di sana."

Kuttippurath dan rekannya menganalisis lebih dari 25 tahun pengukuran konsentrasi ozon di Antartika. Data yang dikumpulkan dari delapan lokasi yang tersebar di Antartika menunjukkan tingkat ozon di permukaan tanah terus meningkat. Aktivitas alam dan manusia disebut bertanggung jawab tas peningkatan kadar ozon yang diukur di Antartika.

"Polusi ozon dapat berkontribusi pada pemanasan global, yang menjadi perhatian besar bagi kawasan ini, karena sangat sensitif terhadap perubahan iklim," kata Kuttippurath. "Pemanasan dapat mempercepat pencairan es laut, kimia dan biologi Samudra Selatan, dan perubahan sifat massa air global."

Sementara itu, ilmuwan memperingatkan jika pemanasan global mungkin telah melampaui titik kritis yang tidak dapat diubah. Hilangnya es laut musim panas di benua tersebut menjadi salah satu peringatan serius.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts