Vaksin COVID-19 Kedua Kanselir Jerman Angela Merkel Beda Merek Dari Dosis Pertamanya, Efektif Kah?
AFP/Annegret Hilse
Dunia
Vaksin COVID-19

Kanselir Jerman Angela Merkel menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca pada April 2021 lalu. Sekitar dua minggu usai otoritas Jerman merekomendasikan vaksin AstraZeneca untuk usia 60 tahun ke atas.

WowKeren - Kanselir Jerman Angela Merkel menerima vaksin virus corona (COVID-19) Moderna sebagai suntikan keduanya pada Selasa (22/6). Padahal untuk suntikan pertama, Merkel telah mendapat vaksin COVID-19 AstraZeneca.

Diketahui, Merkel menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca pada April 2021 lalu. Sekitar dua minggu setelah otoritas Jerman merekomendasikan penggunaan vaksin AstraZeneca untuk orang-orang berusia 60 tahun ke atas.

Diketahui, polemik terkait vaksin AstraZeneca sempat muncul usai vaksin asal Inggris tersebut dikaitkan dengan kasus pembekuan darah yang langka. Belasan negara sempat menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca pada Maret lalu. Namun beberapa di antaranya, termasuk Jerman, telah melanjutkan penggunaan vaksin AstraZeneca karena menilai manfaatnya lebih besar dibanding risikonya.

Pada April lalu, Jerman lantas merekomendasikan orang-orang yang telah menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca agar menggunakan vaksin merek lain untuk suntikan keduanya. Sejumlah negara Eropa lain juga membuat keputusan serupa. Lantas, apa boleh menggunakan dua merek yang berbeda untuk dua kali suntikan vaksinasi COVID-19?


Beberapa ahli rupanya mempercayai bahwa menggunakan vaksin COVID-19 merek lain untuk dosis kedua dapat meningkatkan imunitas. Sebuah penelitian kecil di Inggris bahkan menemukan bahwa orang yang menerima vaksin Pfizer dan kemudian menerima vaksin AstraZeneca, maupun sebaliknya, lebih mungkin mengalami gejala umum pasca vaksinasi yang ringan atau sedang dibanding mereka yang menerima dua dosis vaksin bermerek sama.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menyatakan bahwa menggabungkan suntikan vaksin AstraZeneca dan Pfizer aman serta efisien. Alejandro Cravioto, Ketua Manajemen Strategis WHO, mengatakan sejauh ini hanya dengan AstraZeneca dosis pertama diikuti dengan vaksin Pfizer sebagai dosis kedua yang diketahui pasti bahwa ini dapat dilakukan "tanpa masalah dalam hal kemanjuran."

Di sisi lain, Kanada telah merekomendasikan penggunaan vaksin Pfizer dan Moderna secara bergantian. Pada Senin (21/6), pemerintah Kanada menyatakan bahwa pengiriman mingguan 2,4 juta dosis vaksin Pfizer tertunda.

Akibatnya, sejumlah provinsi mengganti janji penggunaan Pfizer dengan Moderna dan meminta masyarakat untuk tidak membatalkan jadwal vaksinasi mereka. Pejabat di Ontario mengumumkan kepada masyarakat bahwa mereka mungkin akan menerima vaksin mRNA yang berbeda.

"Kami ingin Anda mendapatkan perlindungan penuh sesegera mungkin," tutur dokter David Williams. "Vaksin aman untuk dicampur."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts