PBB Yakin Gelombang Panas Bakal Jadi Pembunuh Massal, Indonesia Juga Berisiko Tinggi
Pixabay/Yves Bernardi
Dunia

Bukan penyakit seperti yang dikhawatirkan, pakar PBB meyakini gelombang panas bisa menjadi 'agenda pembunuhan massal' berikutnya setelah pandemi COVID-19.

WowKeren - Dunia saat ini sedang berjibaku mengakhiri pandemi COVID-19 yang sudah hampir 2 tahun "menemani". Namun belum berhasil pandemi ini diakhiri, pakar-pakar di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) sudah menyampaikan dugaan soal "agenda pembunuh massal" berikutnya yang ternyata bukan lagi soal wabah penyakit.

Dalam draf laporan PBB baru-baru ini, muncul kekhawatiran gelombang panas bisa menjadi agenda pembunuh massal berikutnya. PBB menduga situasi ini bisa terjadi ketika pemanasan global akibat polusi karbon tak lagi teratasi sampai suhu akhirnya melebih batas mutlak toleransi manusia.

Memang risiko apa saja yang bisa terjadi? Mulai dari panas yang membakar Bumi, makhluk hidup tanpa naungan dan tempat berlindung yang baik tentu saja akan menjadi korban. Perairan dangkal juga pasti semakin panas suhunya, yang akan memengaruhi kehidupan makhluk hidup ke depannya.

Horor ini sendiri, diyakini pakar iklim PBB, bisa terjadi hanya dengan sedikit perubahan suhu Bumi. Jika Bumi menghangat 0,4 sampai 1,5 derajat Celsius di atas suhu rata-rata saat ini, sekitar 14 persen populasi akan dihadapkan dengan gelombang panas mengerikan setidaknya sekali dalam lima tahun.


"Peningkatan signifikan terkait magnitudo gelombang panas," ujar pakar iklim PBB dalam laporan tersebut, dikutip dari Today Online pada Senin (28/6). Dan bertambah setengah derajat Celsius lagi saja akan menambah korban menjadi sebanyak 1,7 miliar orang.

Fenomena ini sama sekali tidak bisa dikesampingkan, sebab banyak negara dan area yang bisa terdampak. Apalagi jika sampai suhu tinggi ini "berkolaborasi" dengan peningkatan kelembaban tubuh, sebuah fenomena yang disebut sebagai "suhu wet-bulb".

"Ketika 'suhu wet-bulb' sangat tinggi, tingkat kelembaban udara juga meningkat sehingga berkeringat sudah tak lagi efektif dalam menurunkan suhu internal tubuh," ujar Dr Collin Raymond yang memimpin riset gelombang panas di Gulf. "Di titik tertentu, mungkin dalam 6 jam atau lebih, akan mengarahkan kepada kegagalan organ dan kematian karena kegagalan mendinginkan tubuh."

Pakar memperkirakan yang terdampak fenomena berbahaya ini adalah wilayah di Afrika sub-Sahara, juga Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dalam hal ini tentu juga mencakup Indonesia, Malaysia, Filiipina, dan negara-negara ASEAN lain, yang disebutkan bisa mengalami setidaknya 30 hari dengan panas mematikan setiap tahun pada 2080 mendatang.

"Di area ini, populasi kota akan bertumbuh dengan dramatis dan ancaman kematian akibat suhu panas akan meningkat," kata Dr Steffen Lohrey yang juga ikut dalam riset tersebut. Namun yang menjadi titik panas sesungguhnya adalah wilayah Afrika sub-Sahara.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait