Pangkalan Militer Amerika Serikat (AS) di Suriah dilaporkan mengalami serangan udara berupa roket pada Senin (28/6). Serangan tersebut diketahui merupakan milisi yang didukung oleh Iran.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 29 Juni 2021 - 21:22 WIB
WowKeren - Pada Senin (28/6) kemarin, Pasukan Amerika Serikat (AS) diketahui terlibat baku tembak dengan penyerang usai pangkalannya di Suriah Timur menjadi sasaran sebuah roket. Hal ini diungkapkan oleh pejabat militer AS.
Kemudian, Kolonel Wayne Marotto selaku Juru Bicara (Jubir) Satgas pimpinan AS di Suriah mengatakan bahwa fasilitas yang menampung pasukan Amerika di dekat ladang minyak al-Omar diserang oleh beberapa roket. Meski demikian, ia mengungkapkan tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut. Sedangkan untuk kerusakan masih dihitung oleh pihaknya.
"Pasukan AS di Suriah, saat berada di bawah serangan roket ganda, bertindak membela diri dan melakukan tembakan artileri kontra-baterai ke posisi peluncuran roket," tutur Marotto dalam keterangan tertulis.
Dalam peristiwa tersebut, tidak ada pihak yang mau mengaku sebagai pelaku penyerangan roket. Akan tetapi, dalam sebuah video yang tersebar melalui Telegram, menunjukkan milisi roket itu yang didukung oleh Iran.
Para pejabat AS mengutarakan bahwa serangan tersebut merupakan serangan udara presisi defensif menjadikan fasilitas yang dioperasikan oleh Kata'ib Hezbollah dan Kata'ib Sayyid al-Shuhada sebagai target. Selanjutnya, serangan itu dimaksudkan untuk membendung dan mencegah serangan milisi terhadap pasukan AS.
Serangan tersebut mendapat kecaman dari pemerintah Irak yang menilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional yang melanggar konvensi internasional. "Irak mengulangi penolakannya untuk menjadi arena penyelesaian skor," terang Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Antony Blinken menyepakati keputusan untuk meluncurkan serangan balik. Hal ini diutarakannya saat melangsungkan konferensi pers di Roma dalam rangka menghadiri pertemuan mengenai stabilitas di Suriah dan memerangi kelompok teror negara Islam.
"Kami mengambil tindakan yang diperlukan, tepat, disengaja yang dirancang untuk membatasi risiko eskalasi, tetapi juga untuk mengirim pesan pencegahan yang jelas dan tidak ambigu," jelas Blinken.
(wk/tiar)