Bencana itu merupakan cobaan tambahan ketika pihak berwenang bersiap untuk Olimpiade Tokyo, yang akan dimulai dalam waktu kurang dari tiga minggu, yang menuai kontroversi.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 06 Juli 2021 - 10:28 WIB
WowKeren - Jepang terus melakukan pencarian pada korban yang kini masih dinyatakan hilang akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Atami. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (3/7) pertengahan pagi setelah hujan lebat berhari-hari di Atami, yang seperti banyak kota tepi laut Jepang dibangun di lereng bukit yang curam.
Hingga Senin (5/7) petugas penyelamat masih menggali lumpur dan puing-puing untuk mencari puluhan orang yang mungkin terjebak setelah semburan lumpur mematikan itu menewaskan 4 orang. Hingga kini masih ada 84 orang masih belum ditemukan selama dua hari setelah tanah longsor, menurut pejabat manajemen bencana prefektur Shizuoka Takamichi Sugiyama.
Para pejabat berencana untuk merilis nama mereka, berharap mungkin ada yang pergi saat bencana terjadi. Hal ini mengingat banyak apartemen dan rumah di Atami adalah rumah kedua atau rumah liburan. Selain empat orang yang ditemukan tewas, para pejabat mengatakan 25 orang telah diselamatkan, termasuk tiga orang yang terluka.
Bencana ini menjadi masalah lainnya ketika pihak berwenang bersiap untuk menggelar Olimpiade Tokyo, yang akan dimulai dalam waktu kurang dari tiga minggu. Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan bahwa petugas penyelamat tengah melakukan upaya terbaik mereka "untuk menyelamatkan korban yang mungkin terkubur di bawah lumpur dan menunggu bantuan datang sesegera mungkin."
Sebanyak tiga kapal penjaga pantai, dan enam drone militer dikerahkan untuk mendukung ratusan tentara, pemadam kebakaran dan lain-lain bekerja keras dalam hujan dan kabut. Tanah longsor itu telah meluluhlantakkan lingkungan Izusan, yang terkenal dengan sumber air panas, kuil, dan jalan perbelanjaan. Kota ini memiliki populasi penduduk sebanyak 36.800 dan berada sekitar 100 kilometer di barat daya Tokyo.
Gubernur Shizuoka Heita Kawakatsu, mengatakan hujan yang meresap ke lereng gunung tampaknya menyebabkan lapisan tanah di bawah lokasi konstruksi melemah. Kondisi ini kemudian mendorong tanah meluncur menuruni lereng. Sementara itu, pihak prefektur sedang melakukan penyelidikan. Laporan media mengatakan pembangunan perumahan yang direncanakan di daerah itu ditinggalkan setelah operatornya mengalami masalah keuangan.
(wk/zodi)