Badan Pengatur Farmasi Nasional (NPRA) belum menerima data, laporan, atau bukti dari perusahaan vaksin tentang bagaimana campuran vaksin berhasil mengendalikan infeksi COVID-19.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 14 Juli 2021 - 10:42 WIB
WowKeren - Kementerian Kesehatan (MOH) Malaysia masih belum berencana untuk melakukan mix and match atau menggabungkan penggunaan vaksin COVID-19. Direktur Jenderal Kesehatan Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan jika hal ini disebabkan karena data yang ada masih belum memadai.
Ia mengatakan, sejauh ini Badan Pengatur Farmasi Nasional (NPRA) belum menerima data, laporan, atau bukti dari perusahaan vaksin tentang bagaimana campuran vaksin berhasil mengendalikan infeksi COVID-19. Oleh sebab itu, pihaknya masih terus melakukan pemantauan hingga saat ini. Yang jelas, saat ini penggabungan vaksin masih belum diperlukan.
"Kami masih memantau situasi ini (campuran vaksin) jika ada kebutuhan untuk diterapkan. Untuk saat ini, masih tidak perlu untuk itu," ujarnya. "Apalagi kalau mencampur vaksin Barat dan Timur, misalnya Pfizer, AstraZeneca dan Sinovac, tidak ada buktinya berhasil."
Karena belum adanya bukti yang memastikan penggunaan campuran vaksin aman, maka pihak berwenang Malaysia pun belum berani merekomendasikannya. Dr Noor Hisham mengatakan perlu memastikan bahwa itu aman untuk publik. "Hanya ketika ada penelitian, kami dapat menyarankan untuk mencampur vaksin atau tidak," lanjutnya.
Sebelumnya, dilaporkan jika negara tetangga, Thailand, bermaksud menggunakan vaksin AstraZeneca sebagai dosis kedua bagi mereka yang menerima Sinovac sebagai dosis pertama mereka. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi imunisasi terbaru mereka.
Sementara itu, tingkat vaksinasi Malaysia mencapai 11,3 persen hingga saat ini. Noor Hisham menambahkan bahwa vaksinasi juga telah terbukti mengurangi efek parah dari infeksi COVID-19. "Sebaliknya, kami melihat peningkatan (kasus) pada mereka yang lebih muda dan mereka yang belum divaksinasi," ujarnya.
Noor Hisham mengatakan tingkat vaksinasi harus ditingkatkan menjadi 40 persen untuk mengurangi kasus baru infeksi COVID-19. Ini harus segera dilakukan karena Malaysia saat ini berada dalam masa kritis. Vaksin dianggap penting untuk mengurangi jumlah beban rumah sakit dan perawatan unit perawatan intensif.
(wk/zodi)