Vaksin COVID-19 J&J Dan AstraZeneca Tengah Diteliti Untuk Dimodifikasi Terkait Pembekuan Darah
pixabay.com/Ilustrasi
Dunia
Vaksin COVID-19

Efek samping usai melakukan vaksinasi COVID-19 itu bisa terjadi kepada sejumlah orang. Vaksin Johnson&Johnson dan AstraZeneca saat ini tengah diteliti untuk dimodifikasi terkait dengan pembekuan darah.

WowKeren - Vaksin COVID-19 hingga saat ini masih diburu oleh banyak negara. Hal ini dikarenakan masing-masing negara di dunia tengah mengejar vaksinasi untuk bisa mencapai herd immunity atau kekebalan komunitas.

Para peneliti dari vaksin COVID-19 Johnson&Johnson, AstraZeneca, dan Universitas Oxford, bekerjasama dengan ilmuwan lainnya untuk mengkaji modifikasi vaksin tersebut apakah dapat mengurangi atau menghilangkan efek samping pembekuan darah yang langka dan berbahaya. Hal ini dilaporkan oleh "The Wall Street Journal" (WSJ) pada Selasa (13/7).

Penelitian tersebut saat ini masih dalam tahap awal. Meski demikian, para ilmuwan independen di Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Kanada, memiliki petunjuk yang berkembang pesat terkait dengan proses penggumpalan terbentuk. Hal ini meningkatkan harapan untuk segera bisa mengidentifikasi penyebab dan kemungkinan akan merekayasa ulang.

Meski demikian, belum diketahui pasti apakah kedua vaksin tersebut dapat dimodifikasi atau secara komersial untuk melakukannya. Seorang Juru Bicara (Jubir) J&J mengatakan bahwa pihak perusahaan mendukung dalam proses penelitian dan analisis lanjutan saat bekerja dengan para ahli medis dan otoritas kesehatan.


Sementara untuk pihak AstraZeneca mengatakan bahwa secara aktif bekerja dengan regulator dan komunitas ilmiah untuk memahami peristiwa pembekuan darah yang sangat langkah ini. Termasuk juga dengan informasi untuk mendorong diagnosis dan intervensi dini, serta perawatan yang tepat.

Pada bulan April lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) AS, serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) sempat meminta untuk menghentikan penggunaan vaksin J&J usai dikaitkan dengan kasus pembekuan darah. Akan tetapi, tidak lama kemudian, pihaknya mencabut larangan tersebut karena manfaatnya lebih besar.

Sedangkan untuk penggunaan vaksin AstraZeneca belum diizinkan di AS, namun disuntikkan secara luas di bagian lain dunia. Meski demikian, regulator di Inggris dan Eropa, tetap menggunakan AstraZeneca, tetapi tidak digunakan kepada kelompok yang rentan.

Di sisi lain, vaksin J&J dan AstraZeneca juga diteliti terkait dengan sindrom Guillain Barre atau gangguan sistem kekebalan yang menyerang saraf. Regulator AS menambahkan peringatkan ke vaksin J&J tentang risiko kecil tetapi meningkatkan gangguan itu.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts