Vaksin COVID-19 BioNTech Disebut Hasilkan Antibodi 10 Kali Lebih Banyak Dibanding Sinovac
AFP
Health
Vaksin COVID-19

Adapun studi yang dilakukan oleh The University of Hong Kong (HKU) ini meneliti 1.442 petugas kesehatan dan telah diterbitkan di Lancet Microbe pada Kamis (15/7).

WowKeren - Sebuah studi baru menemukan penerima vaksin COVID-19 buatan BioNTech disebut memiliki antibodi 10 kali lebih banyak dibanding penerima vaksin Sinovac. Adapun studi yang dilakukan oleh The University of Hong Kong (HKU) ini meneliti 1.442 petugas kesehatan dan telah diterbitkan di Lancet Microbe pada Kamis (15/7).

Para peneliti menjelaskan bahwa antibodi bukan satu- satunya ukuran keberhasilan vaksin dalam memerangi penyakit tertentu. Namun mereka juga memperingatkan bahwa "perbedaan konsentrasi antibodi penetralisir yang diidentifikasi dalam penelitian kami dapat diterjemahkan menjadi perbedaan substansial dalam efektivitas vaksin".

Adapun penerima vaksin Sinovac disebut memiliki tingkat antibodi yang mirip atau lebih rendah dari pasien yang tertular COVID-19 dan berhasil sembuh. Adapun studi ini menambah bukti bahwa vaksin dengan teknologi mRNA seperti BioNTech dan Moderna menawarkan perlindungan yang lebih baik terhadap virus corona dan variannya.

Sedangkan vaksin Sinovac dikembangkan dengan metode yang lebih tradisional, yakni dengan menggunakan bagian virus yang tidak aktif (inactivated). Meski demikian, vaksin tradisional ini lebih murah diproduksi dan pengangkutan serta penyimpanannya tidak rumit. Dengan demikian, vaksin ini menjadi alat penting dalam melawan pandemi di negara- negara yang kurang kaya.


Ahli epidemilogi yang menjadi salah satu penulis laporan tersebut, Ben Cowling, menyebut orang-orang tetap bisa divaksinasi dengan Sinovac apabila tidak ada pilihan lain. Pasalnya, beberapa perlindungan selalu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ia juga menyebut sudah banyak nyawa yang diselamatkan oleh vaksin jenis inactivated tersebut.

"Jangan biarkan yang sempurna menjadi musuh dari yang baik," tutur Cowling kepada AFP. "Jelas lebih baik divaksinasi dengan vaksin inactivated daripada menunggu dan tidak divaksinasi."

Adapun data studi tersebut menyarankan "strategi alternatif" seperti suntikan booster sebelumnya mungkin akan diperlukan untuk meningkatkan perlindungan bagi penerima vaksin Sinovac. Menurut Cowling, kapan harus memberikan suntikan booster akan menjadi fase berikutnya dari studi mereka.

"Prioritasnya adalah booster untuk orang yang menerima Sinovac sementara booster untuk orang yang awalnya menerima BioNTech mungkin tidak begitu mendesak," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts