Kondisi di Bandara Kacau, Pejabat Frustasi dengan Kebijakan Panitia Olimpiade Tokyo
Kyodo News
Dunia
Kontroversi Olimpiade Tokyo

Arus kedatangan menjelang Upacara Pembukaan 23 Juli juga telah menciptakan rintangan bagi warga negara Jepang yang ingin pulang dari negara-negara di mana kasus COVID-19 melonjak.

WowKeren - Pejabat di bandara internasional menyatakan rasa frustrasi mereka pada panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo. Kebijakan terkait langkah pencegahan virus corona telah menyebabkan kebingungan dan memicu kemarahan.

Pendatang asing yang jelas terkait dengan Olimpiade telah dikirim kembali ke rumah karena dokumentasi yang tidak memadai. Sebaliknya, banyak yang datang dengan dokumen yang sesuai diizinkan masuk ke negara itu meski tidak terkait Olimpiade.

Melansir Asahi, pada pertengahan Juli lalu, delegasi atlet mendarat di Bandara Internasional Narita dari Amerika Selatan. Namun salah satu pendatang tidak memiliki kartu akreditasi Olimpiade yang diperlukan untuk memasuki Jepang. Sebaliknya, seseorang yang berhubungan dengan sponsor Olimpiade datang dari negara lain dengan seorang putra yang masih di bawah umur dan memegang kartu akreditasi diizinkan masuk.

Seorang jurnalis lepas juga terpaksa dideportasi meski sudah menyerahkan sertifikat tes negatif. Pejabat tidak dapat menerimanya karena tidak memiliki rincian kapan dan di mana tes dilakukan. Metode pengujian yang tercantum juga disebut tidak termasuk yang diterima oleh pemerintah Jepang.


Arus kedatangan menjelang Upacara Pembukaan 23 Juli juga telah menciptakan rintangan bagi warga negara Jepang yang ingin pulang dari negara-negara di mana kasus COVID-19 melonjak. Di bawah aturan untuk mengendalikan infeksi virus corona baru di Jepang, pendatang asing yang tidak terkait dengan Olimpiade ditolak masuk.

"Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo mengatakan akan mengurangi jumlah kedatangan asing," kata sumber di Bandara Narita. "Tetapi individu yang kami ragukan terkait erat dengan Olimpiade datang berbondong-bondong," kata sumber Bandara Narita.

Tak hanya itu. Banyak orang datang terkait Olimpiade tidak membaca pedoman penyelenggara misalnya terkait aturan mengunduh OCHA, aplikasi pelacakan khusus, ke ponsel cerdas mereka.

"Hampir setengah dari kedatangan yang terkait dengan Olimpiade belum mengunduhnya," keluh seorang sumber. "Beberapa tampaknya tidak membaca buku pedoman sama sekali."

Mereka yang tidak memiliki aplikasi diminta di bandara untuk menginstalnya, tetapi itu telah menyebabkan penundaan dan kebingungan lebih lanjut. Situasi tersebut telah menghambat upaya pemerintah untuk membawa kembali warga negaranya dari negara-negara seperti Indonesia terkait lonjakan kasus.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts