Bukan Main, 20 Pekerja TransJakarta Meninggal Imbas WFO 100 Persen Selama PPKM
transjakarta.co.id
Nasional
PPKM Darurat

Presiden KSPI Said Iqbal mengaku mendapat laporan 20 pekerja PT TransJakarta meninggal karena harus 100 persen WFO meski di tengah lonjakan kasus COVID-19.

WowKeren - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memaksa adanya perubahan pada sistem kerja di beberapa sektor. Diketahui hanya sektor kritikal dan esensial yang mendapat kelonggaran dengan izin work from office (WFO) sampai 100 persen meski di tengah PPKM Level 4.

Namun tak disangka pelonggaran ini begitu berisiko, sampai membuat setidaknya 20 orang meninggal. Fakta mengerikan ini, menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, terjadi terhadap 20 pekerja PT TransJakarta yang memang tetap beroperasi dengan sejumlah penyesuaian.

"Pak Anies Gubernur DKI Jakarta periksa PT TransJakarta itu beroperasinya 100 persen," kata Iqbal dalam konferensi pers virtualnya, Senin (26/7). "Sampai hari ini saya baru mendapatkan laporan tingkat kematian para pekerja buruh, karyawan TransJakarta lebih dari 20 orang."

Bahkan menurut Iqbal, angka ini terus bertambah setiap harinya, menandakan bahwa penularan COVID-19 di lingkup karyawan PT TransJakarta cukup tidak terkendali. Iqbal, berdasarkan data yang dihimpun dari karyawan langsung, menuturkan tingkat penularan COVID-19 di antara mereka mencapai 10 persen.


"Ada apa ini dengan Gubernur DKI Jakarta? Di rumahnya sendiri saja TransJakarta di bawah BUMD, Pemda DKI 20 orang pekerja buruh sudah meninggal Pak Gubernur," tutur Iqbal. "Ratusan orang sudah tertular COVID-19. Tidak ada yang kerja WFH (work from home) 50 persen, WFO 50 persen."

Iqbal pun kembali menyuarakan tuntutan para pekerja, yaitu pembagian sistem kerja sehingga bisa digilir antara WFH dan WFO. "Kami minta kerja bergilir bukan berhenti. Kerja bergilir diatur. Operasionalnya tuh diatur," tuntut Iqbal.

Tuntutan ini seolah kontras dengan klaim Anies Baswedan perihal pengendalian wabah COVID-19 di Ibu Kota. Diberitakan sebelumnya, Anies membanggakan tren kasus COVID-19 Ibu Kota yang terus menurun meski masih jauh dari ideal.

Anies mengungkap sejumlah bukti atas klaimnya tersebut. Mulai dari antrean dan tingkat keterisian rumah sakit yang berkurang, walaupun angka kasus aktifnya masih di kisaran 64 ribu alias 2 kali lipat lebih tinggi daripada puncak gelombang COVID-19 sebelumnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts